Laporkan Masalah

Makna Teori Pengakuan Charles Taylor Bagi Pendidikan Multikultural di Indonesia Untuk Mengatasi Perundungan di Sekolah

Setia Paulina Sinulingga, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum ; Dr. Hastanti Widy Nugroho, S.S., M.Hum

2025 | Disertasi | S3 Ilmu Filsafat

Pendidikan merupakan usaha terpadu untuk memanusiakan manusia dan membentuk karakter agar peserta didik berkembang sebagai pribadi yang bermartabat dalam relasi sosial dan kultural. Bertitik tolak konteks masyarakat yang plural, pendidikan dituntut menjadi ruang etis yang menghargai keberagaman dan menjamin keadilan relasional. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan makna teori pengakuan (recognition) menurut Charles Taylor bagi pendidikan multikultural serta relevansinya dalam mengatasi perundungan di sekolah. Kegelisahan filosofis penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa praktik pendidikan kerap gagal mewujudkan relasi yang setara dan saling menghormati, sebagaimana tampak dalam berbagai bentuk perundungan dan ketimpangan relasi sosial di lingkungan pendidikan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analitis filosofis-hermeneutik dan bersifat kepustakaan. Analisis dilakukan dengan menekankan tahap interpretasi untuk menafsirkan secara mendalam makna teori pengakuan dalam kerangka pemikiran Charles Taylor, dilanjutkan dengan refleksi filosofis guna menggali implikasi etis dan normatifnya bagi pendidikan multikultural. Tahap deskripsi digunakan pada bagian akhir untuk merangkum secara sistematis temuan-temuan konseptual yang relevan dengan praksis pendidikan. Proses analisis mencakup pendekatan holistik, heuristika, serta penggunaan bahasa inklusif guna memahami hubungan antara pengakuan, identitas, dan keadilan relasional dalam konteks pendidikan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa teori pengakuan menegaskan secara ontologis manusia sebagai makhluk relasional yang identitasnya terbentuk secara dialogis melalui relasi timbal balik dengan sesama. Keberadaan manusia tidak dipahami sebagai entitas yang terisolasi, melainkan selalu berada dalam jaringan makna sosial dan kultural. Secara epistemologis, pengakuan dipahami sebagai proses dialogis yang memungkinkan subjek mengenali dan memahami diri serta orang lain melalui komunikasi yang setara dan saling menghormati; pengetahuan tentang diri dan sesama tidak bersifat monologis atau dominatif, melainkan terbentuk dalam ruang dialog yang terbuka dan inklusif. Secara aksiologis, teori pengakuan menegaskan martabat manusia, keadilan relasional, empati, dan solidaritas sebagai nilai-nilai normatif yang menuntun penyelenggaraan pendidikan multikultural. Dalam kerangka ini, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transmisi pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan kesadaran moral dan tanggung jawab sosial. Perundungan dipahami sebagai bentuk misrecognition, yaitu penyangkalan terhadap eksistensi dan martabat manusia. Oleh karena itu, penguatan budaya pengakuan dalam pendidikan berperan penting dalam memulihkan keadilan relasional, mencegah dominasi, serta menumbuhkan sikap saling menghormati dalam keberagaman. Dengan demikian, teori pengakuan memberikan dasar filosofis yang kokoh bagi pengembangan filsafat pendidikan multikultural yang adil dan dialogis.


Education is an integrated effort to humanize human beings and to form character so that learners develop as dignified persons within social and cultural relations. In the context of a plural society, education is required to function as an ethical space that respects diversity and ensures relational justice. This study aims to explore the meaning of Charles Taylor’s theory of recognition for multicultural education and its relevance in addressing bullying in schools. The philosophical concern underlying this research arises from the reality that educational practices often fail to realize egalitarian and mutually respectful relationships, as reflected in various forms of bullying and unequal social relations within educational settings.
This study employs a qualitative approach using a philosophical–hermeneutical analytical method and is based on library research. The analysis emphasizes interpretative stages to examine deeply the meaning of the theory of recognition within Charles Taylor’s framework of thought, followed by philosophical reflection to uncover its ethical and normative implications for multicultural education. The descriptive stage is used in the final section to systematically summarize conceptual findings relevant to educational praxis. The analytical process involves holistic and heuristic approaches, as well as the use of inclusive language, to understand the relationship between recognition, identity, and relational justice in educational contexts.

The findings indicate that, ontologically, the theory of recognition affirms human beings as relational entities whose identities are dialogically formed through reciprocal relationships with others. Human existence is not understood as an isolated entity but as always embedded in networks of social and cultural meanings. Epistemologically, recognition is understood as a dialogical process that enables subjects to know and understand themselves and others through egalitarian and respectful communication; knowledge of self and others is not monological or dominative, but is constituted within open and inclusive dialogical spaces. Axiologically, the theory of recognition emphasizes human dignity, relational justice, empathy, and solidarity as normative values guiding the implementation of multicultural education. Within this framework, education functions not merely as a means of knowledge transmission, but also as a space for the formation of moral awareness and social responsibility. Bullying is understood as a form of misrecognition, namely the denial of human existence and dignity. Therefore, strengthening a culture of recognition in education plays a crucial role in restoring relational justice, preventing domination, and fostering mutual respect within diversity. Thus, the theory of recognition provides a solid philosophical foundation for the development of a just and dialogical philosophy of multicultural education.

 

Kata Kunci : filsafat pendidikan, pengakuan, pendidikan multikultural, perundungan.

  1. S3-2025-508473-abstract.pdf  
  2. S3-2025-508473-bibliography.pdf  
  3. S3-2025-508473-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2025-508473-title.pdf