Praktik Bentrokan Terencana Antarkelompok Suporter Terkait Rivalitas Politik dalam Tubuh Suporter PSS Sleman
Yan Akbar Rizqi, Budiawan, S.S., M.A., Ph.D.
2025 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan Media
Penelitian ini mengkaji realitas sosial komunitas suporter sepak bola Brigata Curva Sud (BCS), suporter PSS Sleman sebagai arena produksi identitas kolektif, solidaritas, dan konflik yang kompleks. Berangkat dari sebuah kasus bentrokan terencana sesama anggota BCS dengan perbedaan afiliasi partai politik, hal ini mendobrak asumsi mengapa fanatisme yang selama ini dianggap sebagai kekuatan pemersatu dalam tubuh suporter, ternyata tidak mampu mencegah konflik internal yang berakar pada rivalitas politik. Melalui metode etnografi dan penggunaan kerangka teori Pierre Bourdieu, Antonio Gramsci, serta pemikiran tentang komunitas berproses Sewell Jr., temuan penelitian ini memaparkan bagaimana alienasi baru dalam masyarakat komunitarian terakumulasi dengan emosi lain yang terbangun dari kehidupan sehari-hari yang beririsan dengan kehidupan suporter. Habitus kekerasan dan maskulinitas hegemonik terinternalisasi dan direproduksi dalam praktik sehari-hari komunitas yang awalnya muncul sebagai respons adaptif terhadap ancaman eksternal, berkembang menjadi norma sosial dan simbol kontrol sosial internal yang mengikat anggota komunitas dalam ikatan solidaritas sekaligus kekerasan simbolik. Kajian ini juga menyorot paradoks komunitas suporter dalam era politisasi identitas. Di satu sisi, membentuk solidaritas dan di lain sisi mereproduksi bentuk kekerasan baru dari dalam yang menimbulkan ketegangan internal, termasuk arranged fight sebagai ritual terorganisir penyelesaian konflik yang dianggap “terhormat”. Stadion dan tribun bukan sekadar ruang hiburan, melainkan ruang politik mikro tempat ekspresi sosial dan simbolik dipertarungkan.
This study examines the social realities of the Brigata Curva Sud (BCS) football supporter community, fans of PSS Sleman, as an arena for the production of collective identity, solidarity, and complex conflict. This particular case of an arranged fight between BCS members due to differing political allegiances challenges the notion that fanaticism, which is traditionally seen as a cohesive factor in supporter culture, acts as a buffer against internal strife caused by political rivalry. Utilizing an etnography method, with supporting theories from Bourdieu, Gramsci, and Sewell Jr.’s community in the making theories, the results reveal a new type of alienation within an increasingly intense communitarian society, along with other layered feelings shaped by everyday life and the lives of sponsors. Within the community, a habitus of violence, along with hegemonic masculinity, becomes embedded and perpetuated in the community's daily practices, initially an adaptive response to perceived external threats and, over time, transforming into social norms and symbols of voluntary social control, bringing members together in a duality of cohesive social solidarity and symbolic violence. The study also highlights the paradox of supporter communities in the era of identity politicization: on one hand, fostering solidarity, while on the other, reproducing new forms of internal violence, including arranged fights as organized ritualistic means of resolving conflicts deemed “honorable.” Stadiums and stands are not merely spaces of entertainment but micro-political arenas where social and symbolic expressions are contested.
Kata Kunci : Arranged fight; suporter sepak bola; PSS Sleman; rivalitas politik