Laporkan Masalah

TRANSFORMASI PEMUSIK SEBAGAI AKTOR DALAM RUANG LIMINAL: ANALISIS PERFORMATIVITAS PADA LAKON LAMPOR KETHOPRAK RINGKES TJAP TJONTHONG

Ponang Merdugandang, Dr. Aton Rustandi Mulyana, M. Sn. , Dr. G. R. Lono L. Simatupang, M. A.

2025 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa

Penelitian ini menganalisis transformasi pemusik-aktor dalam Kethoprak Ringkes Tjap Tjonthong, khususnya pada lakon “Lampor”. Dengan menggunakan perspektif teori performativitas Richard Schechner, khususnya restored behavior (konsep perilaku yang direstorasi) dan ruang liminal, penelitian ini mengkaji bagaimana praktik performatif pemusik membentuk identitas baru sebagai aktor dan memengaruhi struktur dramaturgi serta makna sosial pertunjukan kethoprak. Pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus lakon “Lampor” digunakan, melibatkan metode observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pemusik tidak lagi berfungsi sebagai pengiring yang tersembunyi, melainkan terlibat aktif dalam aksi dramatik; memanfaatkan tubuh dan suara mereka untuk menciptakan makna. Keterlibatan ini merupakan bentuk dari restored behavior, menempatkan mereka dalam ruang liminal di mana identitas musisi dan aktor dinegosiasikan dan didefinisikan ulang. Integrasi ini mengubah paradigma musik dari unsur pendukung menjadi bagian organik yang terjalin dengan struktur dramatik dan naratif pertunjukan. Dalam lakon “Lampor”, pemusik-aktor melakukan berbagai tindakan dramatik spesifik—mulai dari bergabung sebagai warga biasa, membantu penataan set panggung, hingga menyimbolkan kekuatan spiritual atau kritik sosial—yang secara efektif mengaburkan batas peran tradisional. Transformasi ini menciptakan pengalaman teater yang lebih afektif dan reflektif bagi penonton, mendorong keterlibatan emosional dan pemikiran kritis, serta menumbuhkan communitas dalam komunitas Kethoprak Ringkes. Kethoprak Ringkes Tjap Tjonthong menunjukkan respons adaptif dan inovatif dari seni pertunjukan tradisional, secara efektif menegosiasikan antara mempertahankan akar budayanya dan merangkul modernitas.

This study analyzes the transformation of musician-actors in Kethoprak Ringkes Tjap Tjonthong, specifically in the play “Lampor”. Drawing on Richard Schechner's performance theory, particularly the concepts of restored behavior and liminal space, the research examines how musicians' performative practices shape their new identities as actors and influence the dramatic structure and social meaning of kethoprak performances. A qualitative approach with a case study design focused on “Lampor” was employed, involving observation, interviews, and documentation methods. Findings reveal that musicians are no longer merely hidden accompanists but are actively involved in dramatic actions, utilizing their bodies and voices to create meaning. This involvement constitutes a form of restored behavior, positioning them in a liminal space where musician and actor identities are negotiated and redefined. This integration shifts the paradigm of music, making it organically intertwined with the performance's dramatic structure and narrative. In “Lampor”, musician-actors perform various specific dramatic actions—from joining as ordinary citizens and assisting with set arrangements to symbolizing spiritual forces or social critique—thereby effectively blurring traditional role boundaries. This transformation creates a more affective and reflective theatrical experience for the audience, fostering deeper emotional engagement and critical thinking, and promoting communitas within the Kethoprak Ringkes community. Kethoprak Ringkes Tjap Tjonthong demonstrates traditional art's adaptive and innovative response to contemporary challenges, effectively negotiating its cultural roots with modernity.

Kata Kunci : Kethoprak Ringkes Tjap Tjonthong, Pemusik-Aktor, Restored Behavior, Ruang Liminal

  1. S2-2025-495472-abstract.pdf  
  2. S2-2025-495472-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-495472-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-495472-title.pdf