Analisis Strategi Pengembangan Bisnis Keraton Ratu Boko
Zulfiana Setyaningsih, Prof. Amin Wibowo, S.E., M.B.A., Ph.D.
2025 | Tesis | S2 Manajemen
Keraton Ratu
Boko ditetapkan Pemerintah Indonesia sebagai cagar budaya nasional yang dikelola
oleh Injourney Destination Management (IDM). IDM merupakan korporasi sebagai bagian dari badan usaha milik
negara yang diberikan
amanah oleh Injourney berperan dalam pengelolaan
warisan sejarah dan budaya Indonesia yang berkelas dunia. Sejak tahun 2022 hingga akhir tahun 2024, angka kunjungan wisatawan di
Keraton Ratu Boko terus menurun. Berdasarkan tren minat wisatawan
terhadap cultural immersion yang semakin meningkat, perlu dilakukan analisis strategi pengembangan bisnis di Keraton Ratu
Boko agar dapat meningkatkan angka kunjungan wisatawan serta mengoptimalkan
performa bisnisnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor
internal dan eksternal serta merumuskan strategi pengembangan bisnis yang dapat
diterapkan pengelola Keraton Ratu Boko. Penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, diskusi,
observasi, dan desk research. Data yang telah diperoleh kemudian
dianalisis dengan pendekatan Strategy Formulating Framework (David
& David, 2015).
Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor-faktor internal yang menjadi kekuatan
Keraton Ratu Boko terdiri dari narasi Keraton Ratu Boko sebagai cagar budaya,
bangunan yang iconic, suasana dan pemandangan yang indah, citra Ratu
Boko sunset yang melekat kuat, pengelolaan terintegrasi dalam ekosistem
Injourney serta sistem internal pengelolaan bisnis yang memadai. Adapun faktor
internal yang menjadi kelemahan Keraton Ratu Boko, yaitu aksesibilitas kurang
memadai, beberapa fasilitas tidak berfungsi optimal, keterbatasan lahan
pengembangan, tidak seluruh lahan atau area destinasi milik pengelola serta
keterbatasan media dan strategi promosi. Faktor-faktor eksternal yang menjadi
peluang Keraton Ratu Boko, yaitu adanya program pengembangan infrastruktur
jalan exit tol Boko, dukungan stakeholder terkait pengelolaan
sangat baik, tidak ada isu sosial yang dikhawatirkan menghambat serta
meningkatnya tren pariwisata dengan fokus pengalaman budaya yang mendalam (cultural
immersion). Adapun faktor-faktor eksternal yang dapat mengancam
keberlangsungan bisnis Keraton Ratu Boko, yaitu adanya batasan pada regulasi
destinasi cagar budaya, munculnya pesaing destinasi baru disekitar Keraton Ratu
Boko, adanya kebijakan efisiensi anggaran Kementerian/Lembaga serta potensi
angin kencang dan curah hujan tinggi. Berdasarkan hasil analisis matriks
IE Keraton Ratu Boko saat ini yang
berada pada kuadran V yaitu hold and maintain (dipertahankan dan
dipelihara), maka strategi yang tepat yaitu strategi penetrasi pasar dan
pengembangan produk. Secara spesifik, sesuai dengan hasil analisis matriks
QSPM, maka alternatif strategi pengembangan bisnis yang dapat diterapkan oleh
pengelola Keraton Ratu Boko adalah peningkatan kerja sama strategis, peningkatan
kegiatan promosi yang ekstensif, peningkatan kualitas experience, dan pengembangan produk baru.
Keraton Ratu Boko was designated
by the Government of Indonesia as a national cultural heritage which is managed
by Injourney Destination Management (IDM). IDM is a state-owned enterprise
entrusted by Injourney to present Indonesia's heritage and culture to
the world through a world-class experience. From 2022 to the end of 2024, the number of Keraton Ratu
Boko’s visitor continued to decline. Based on the increasing trend of tourists
attraction in cultural immersion, it is necessary to analyze business development
strategies at the Keraton Ratu Boko to increase tourist visits and optimize
business performance. This research aims to analyze internal and external
factors and formulate business development strategies that can be implemented
by management of the Keraton Ratu Boko. This research is a descriptive
qualitative research. Data collection was arranged through interviews,
discussions, observations, and desk research. The data is analyzed using the
Strategy Formulating Framework approach (David
& David, 2015). The results of the analysis show that internal factors
which become the strength of Keraton Ratu Boko are the story of the Keraton
Ratu Boko as a cultural heritage, its iconic buildings, beautiful atmosphere
and scenery, the strong impression of the Ratu Boko sunset, integrated
management with Injourney’s ecosystem, and adequate internal business
management systems. Internal factors that become weaknesses are inadequate
accessibility, some facilities not functioning optimally, limited development
land, not all land or destination areas are owned by management, and limited
media and promotion strategies. External factors that gives an opportunity for
Keraton Ratu Boko are the development infrastructure program of the Boko toll
road exit, very good support from stakeholders related to management, no social
issues, and the increasing trend of tourism focusing on deep cultural
experiences (cultural immersion). External factors that can threaten the
business sustainability of Keraton Ratu Boko are highly regulated on cultural
heritage destination, the emergence of new competitor destinations around
Keraton Ratu Boko, budget efficiency policies of Government/ Institutions, and
the potential for strong winds and high rainfall. Based on the IE matrix
analysis, Keraton Ratu Boko is currently in quadrant V, it means hold and
maintain, so the alternative strategies which can be implemented are market
penetration and product development. Specifically, according to the results of
the QSPM matrix analysis, alternative business development strategies that can
be implemented are increasing strategic partnership, increasing extensive
promotional activities, improving quality of experience, and developing new
products.
Kata Kunci : Strategy Formulating Framework, Matriks IFE, Matriks EFE, Matriks IE, Matriks QSPM, Industri Pariwisata / Strategy Formulating Framework, Internal Factor Evaluation (IFE) Matrix, External Factor Evaluation (EFE) Matrix, Internal-External (IE) Matrix, Quan