Studi permukiman Margersari Kraton di kecamatan Kraton Kotamadya Yogyakarta
Raj Riana Dyah Prawitasari, Drs. Hadi Sabari Yunus, M.A.; DRS
1997 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANPemukiman magersari kraton adalah proses menempati permukiman magersari kraton, merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal bagi penduduk yang berpendapatan rendah yang belum mampu membeli lahan dan rumah, khususnya bagi penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tujuan penelitian ini yang pertama, untuk mengetahui karakteristik sosial ekonomi pemukim, kedua untuk mengetahui karakteristik permukiman, ketiga untuk mengetahui faktor-faktor penarik dan keempat untuk mengetahui pemukiman atau proses menempati magersari kraton yang meliputi pemukiman dalam dimensi waktu dan dimensi keruangan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan wawancara terhadap responden dan nara sumber. Pengambilan sampel dengan metode sampel acak distratifikasi (stratified random sampling), terdiri dari empat lapisan: 1) pemukiman tipe D1, 2) pemukiman tipe D2, 3) pemukiman tipe L1 dan 4) pemukiman tipe L2. Jumlah sampel sebanyak 180 responden, penentuan sampel secara quota sampling, masing-masing lapisan 45 responden. Responden adalah kepala keluarga dengan status bangunan rumah milik sendiri dan menumpang tanpa membayar sewa. Analisa data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif digunakan tabel frekuensi, tabel silang dan deskriptif sedangkan kuantitatif menggunakan analisis uji beda t-test, zscore untuk skor kualitas permukiman dan regresi ganda. Hasil analisis data primer yang diperoleh menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada pendapatan dan biaya pemukiman antara pemukim turun-temurun dan bukan turun-temurun. Rata-rata pendapatan pemukim turun-temurun relatif lebih tinggi dibandingkan pendapatan pemukim bukan turun-temurun. Rata-rata biaya pemukiman turun-temurun relatif lebih rendah dibandingkan biaya pemukiman bukan turun-temurun. Kualitas permukiman turun-temurun dan bukan turun-temurun tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Faktor pengaruh utama kualitas permukiman turun-temurun dan bukan turun-temurun adalah luas bangunan rumah dikuti faktor biaya perawatan permukiman. Faktor penarik utama pemukim turun-temurun dan bukan turun-temurun adalah karena letak dekat pusat kota kemudian karena biaya pemukiman yang relatif rendah. Dari hasil penelitian diketahui terdapat perbedaan proses menempati atau pemukiman antara sebelum dan sesudah tahun 1980, pemukiman sebelum tahun 1980 adalah pemberian lahan dan rumah dari Sultan hanya berdasarkan kepercayaan dan kesepakatan secara lisan, tidak ada perjanjian tertulis, tidak membayar biaya sewa/penanggalan sedangkan pemukiman setelah 1980 adalah melalui Paniti Kismo mengajukan permohonan kepada Sultan dengan kesepakatan lisan (khusus kerabat Sultan), permohonan kepada Sultan dengan perjanjian tertulis untuk abdi dalem dan umum, surat perjanjian abdi dalem berbeda dengan surat perjanjian untuk rakyat/umum, abdi dalem tidak membayar penanggalan tetapi membayar biaya penganyar-anyar, biaya administrasi (formulir). Rakyat/umum membayar biaya penganyar-anyar, biaya administrasi (formulir) dan biaya sewa/penanggalan.
-
Kata Kunci : Studi permukiman amgersari,Kraton Kotamadya Yogyakarta,DIY