Makna dan Nilai Pendidikan Anak Usia Dini bagi Orang Tua di Satuan Paud Sejenis (SPS) Melati, Padukuhan Nayan, Maguwoharjo
Anissa Aprilian Songga, Mubarika Dyah Fitri Nugraheni, S.Ant., M.A.
2025 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi tahapan yang krusial dalam proses pertumbuhan setiap manusia baik dari aspek kognitif, emosional, hingga sosial. Tidak dapat dipungkiri proses enkulturasi terjadi begitu anak-anak bergaul dengan masyarakat. penelitian ini berangkat dari fenomena di masyarakat semi-pedesaan, khususnya di Padukuhan Nayan, Maguwoharjo, Sleman, di mana masyarakat memiliki pemaknaan terhadap PAUD sebagai ruang sosialisasi daripada institusi akademik. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana masyarakat Nayan memaknai PAUD serta nilai-nilai yang menjadi dasar dalam pandangan mereka terhadap pendidikan anak. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini menggali pandangan dan pengalaman orang tua melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi di SPS Melati Nayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat tidak menempatkan PAUD semata sebagai lembaga persiapan akademik, melainkan lebih sebagai arena sosialisasi bagi anak-anak untuk belajar berinteraksi di luar lingkungan keluarga.
PAUD dipahami sebagai ruang yang memungkinkan anak mengembangkan kemampuan sosial, belajar menghargai orang lain, serta memahami aturan dasar kehidupan bersama. Melalui kegiatan bermain dan interaksi sehari-hari, anak mulai mengenal konsep berbagi, menunggu giliran, bekerja sama, dan menyesuaikan diri dengan kelompok. Dalam konteks tersebut, masyarakat Nayan menilai bahwa aspek terpenting dari pendidikan anak usia dini adalah pembentukan adab yang baik yakni perilaku sopan, hormat terhadap orang lain, serta mampu menempatkan diri dengan tepat dalam lingkungan sosial.
Dengan demikian, pemaknaan masyarakat terhadap PAUD tidak hanya berorientasi pada pencapaian kognitif, tetapi juga pada internalisasi nilai-nilai sosial dan moral yang diyakini sebagai dasar kepribadian anak. Bagi masyarakat Nayan, pendidikan anak usia dini menjadi sarana untuk menanamkan adab sebagai fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat.
Early Childhood Education (PAUD) represents a crucial phase in human development that encompasses cognitive, emotional, and social dimensions. The process of enculturation begins as children engage and interact with their surrounding community. This study explores how the semi-rural community of Padukuhan Nayan, Maguwoharjo, Sleman, interprets PAUD not merely as an academic institution but as a space for socialization and moral formation. The research aims to understand the community’s interpretation of PAUD and the values underlying their views of early childhood education. Using a qualitative descriptive approach, data were obtained through in-depth interviews, field observations, and documentation at SPS Melati Nayan.
The findings indicate that the community perceives PAUD as a social environment where children learn to communicate, cooperate, and adapt beyond the family sphere. PAUD provides structured opportunities for children to develop empathy, respect, and self-control. Through play and daily interaction, they gradually learn to share, wait their turn, and understand basic social norms practiced in groups.
The people of Nayan regard the cultivation of adab—good manners, respect for others, and proper conduct—as the core objective of early education. Their perception of PAUD emphasizes moral and social internalization rather than academic achievement. Thus, for the Nayan community, PAUD serves not only to educate but also to instill adab as the moral foundation for children to grow into socially responsible and respectful individuals.
Kata Kunci : Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pemaknaan, Sosialisasi, Nilai, Adab