Representasi Kemiskinan Struktural dalam Film Komedi: Analisis Semiotika Roland Barthes dalam Film Agak Laen (2024)
Stefanus Ega Panji Panuntun, Dr. Wisnu Martha Adiputra, S.I.P., M.Si.
2025 | Skripsi | Ilmu Komunikasi
Penelitian ini bertujuan untuk menelaah representasi kemiskinan struktural dalam film Agak Laen melalui perspektif semiotika Roland Barthes. Film ini dipilih sebagai objek kajian karena keberhasilannya menggabungkan genre komedi dan horor sekaligus menyisipkan isu-isu sosial yang relevan, khususnya kemiskinan, dalam narasi populer. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi adegan, dokumentasi, serta studi pustaka, kemudian dianalisis pada tiga tingkatan makna, yakni denotatif, konotatif, dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan struktural dalam film Agak Laen direpresentasikan melalui empat indikator utama: keterbatasan kepemilikan modal, budaya hidup buruk, keterbatasan sarana dan prasarana, serta pengaruh terhadap diri sendiri. Indikator ini juga memperlihatkan bahwa kemiskinan tidak hanya dipahami sebagai keterbatasan ekonomi individu, melainkan sebagai kondisi sistemik yang diproduksi dan dipertahankan oleh struktur sosial. Tanda-tanda representasi kemiskinan struktural ditemukan melalui analisis visual, dialog, latar tempat, serta komponen sinematik lainnya yang mengonstruksi gambaran kehidupan masyarakat kelas bawah. Representasi ini menunjukkan bahwa kemiskinan yang dialami tokoh-tokohnya bukan sekadar akibat kurangnya usaha individu, melainkan berakar pada struktur sosial ekonomi yang timpang, seperti keterbatasan modal, lingkungan kerja yang tidak layak, stigma sosial, hingga keterbatasan akses terhadap fasilitas publik. Temuan ini menegaskan bahwa Agak Laen tidak sekadar menjadi karya hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai teks budaya yang mengartikulasikan kritik sosial terhadap ketimpangan dan marginalisasi masyarakat kelas bawah di Indonesia.
This study aims to examine the representation of structural poverty in the film Agak Laen through Roland Barthes’ semiotic perspective. The film was selected as the object of analysis due to its success in combining the comedy and horror genres while simultaneously embedding relevant social issues, particularly poverty, within a popular narrative. Using a qualitative research method, data were collected through scene observation, documentation, and literature study, and subsequently analyzed at three levels of meaning: denotative, connotative, and myth. The findings reveal that structural poverty in Agak Laen is represented through four main indicators: limited ownership of capital, detrimental lifestyle practices, inadequate facilities and infrastructure, and the psychological impact on the individual. These indicators demonstrate that poverty should not merely be understood as individual economic deprivation, but as a systemic condition produced and sustained by social structures. Signs of structural poverty are identified through visual elements, dialogue, settings, and other cinematic components that construct the depiction of lower-class life. The representation shows that the poverty experienced by the characters is not simply the result of a lack of personal effort, but rather rooted in unequal socio-economic structures, such as limited capital, poor working environments, social stigma, and restricted access to public facilities. These findings affirm that Agak Laen is not merely an entertainment product, but also functions as a cultural text articulating social critique against inequality and the marginalization of the lower class in Indonesia.
Kata Kunci : representasi, kemiskinan struktural, semiotika Roland Barthes, film Agak Laen, komunikasi massa.