SENGKAN-NURUNAN DALAM RAGAM TRADISI LISAN P?DHALANGAN K?DHU T?MANGGUNGAN VERSI KI LEGOWO CIPTOKARSONO
Gibran Nicholau, Dr. Rudy Wiratama, S. I. P., M. A.
2025 | Skripsi | SASTRA NUSANTARA
Wayang Gagrag Kedhu Temanggungan merupakan salah satu gaya Wayang Purwa di Indonesia. Sebagai ragam gaya wayang kedaerahan Wayang Gaya Kedu Temanggungan memiliki repertoar Cerita khas selain Mahabharata dan Ramayana, oleh Ki Legowo Ciptokarsono disebut sebagai Lakon Pujanggan Kedhu yang bernafaskan budaya agraris wilayah eks-Karesidenan Kedu khususnya Temanggung. Salah satu Lakon Pujanggan Kedhu tersebut adalah ‘Sengkan-Nurunan’ yang mengisahkan konflik Prabu Sengkan dengan Dewi Sri dan Nurunan, yang menyebabkan kedua adiknya tersebut diasingkan. Selama pengasingan mereka, Dewi Sri dan Nurunan menyebarkan pengetahuan pertanian dan berusaha menciptakan tatanan kehidupan baru.
Skripsi ini membahas lakon ‘Sengkan-Nurunan’ menggunakan analisis naratologis Mieke Bal dengan memakai ‘Sengkan-Nurunan’ versi Ki Legowo Ciptokarsono sebagai objek dasar. Unsur-unsur naratologis yang dibahas meliputi Teks, Cerita, dan Fabula beserta unsur-unsur turunannya, antara lain peristiwa, latar waktu dan tempat, fokalisasi, tokoh-tokoh aktor utama dan pendukung, dan aspek temporalitas. Disajikan pula lakon ‘Sengkan-Nurunan’ versi lain dalam lingkup tradisi Kedu Temanggungan, yakni versi Ki Yatman Siswowisono, sebagai pelengkap analisis naratologis.
Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa kedua versi Teks dan Cerita ‘Sengkan-Nurunan’ mengikuti konvensi struktur pementasan Pedalangan Gagrag Kedhu Temanggungan yang meniscayakan bentuk aspek temporalitas dan fokalisasi tertentu. Tokoh-tokoh aktor utama dan pendukung juga dapat dipetakan lewat analisis dinamika peristiwa di dalam lakon tersebut. Analisis komparatif membuktikan bahwa lakon ‘Sengkan-Nurunan’ versi Ki Legowo Ciptokarsono maupun Ki Yatman Siswowisono merupakan Teks dan Cerita yang sama namun dengan unsur Fabula yang khas di antara kedua versi.
Wayang puppetry in the Kedhu Temanggungan style is one of the forms of Wayang Purwa puppetry in Indonesia. As a regional style it has its own story repertoire other than the usual Mahabharata and Ramayana epics, which is termed Lakon Pujanggan Kedhu by Ki Legowo Ciptokarsono, that depicts agrarian rites and life in the Kedu region, especially in Temanggung. One of these Lakon Pujanggan Kedhu is ‘Sengkan-Nurunan’ which tells the story of Prabu Sengkan who conflicts over his two younger siblings Dewi Sri and Nurunan, which leads to the exile of the two younger siblings. The exiled Dewi Sri and Nurunan continue to spread agricultural gnosis during their journeys and strive to build a new way of life.
This research discusses the story of ‘Sengkan-Nurunan’ using Mieke Bal’s narratological analysis using Ki Legowo Ciptokarsono’s ‘Sengkan-Nurunan’ version as the basic object. Analysis involves narratological elements of Text, Story, and Fabula as well as their sub-elements such as events, settings, focalisation, main and supporting actors, and temporal aspects. Another version of ‘Sengkan-Nurunan’ within the Kedu Temanggungan tradition, in this case Ki Yatman Siswowisono’s version, is also shown to complete the narratological analysis.
This research shows that the two Text and Story versions of ‘Sengkan-Nurunan’ follows the convention of how a Kedu Temanggungan wayang show is structured, causing consequential flows of temporality and focalisation. Main and supporting actors are mapped through insight of the events within the Story. Comparative analysis proves that the tale of ‘Sengkan-Nurunan’ from either Ki Legowo Ciptokarsono or Ki Yatman Siswowisono, tells the same Text and Story, albeit with distinct Fabula retellings.
Kata Kunci : Wayang Gaya Kedu Temanggungan, lakon ‘Sengkan-Nurunan’, Ki Legowo Ciptokarsono, versi, naratologi Mieke Bal