Laporkan Masalah

Ruang Kreatif Seni Pertunjukan di Sleman dengan Pendekatan Ruang Ketiga

Akram Anggoro Saputro, Dr.Eng. Alexander Rani Suryandono, S.T., M.Arch.

2025 | Skripsi | ARSITEKTUR

Kabupaten Sleman memiliki berbagai daya tarik benda maupun non benda. Berbagai pelaku seni tumbuh di berbagai kawasan menciptakan ekosistem seni Sleman yang masih berkembang. Pelaku seni di dalamnya memberikan potensi besar bagi Sleman untuk memajukan industri ekonomi kreatif sebagai pilar pertumbuhan daerah. Seni pertunjukan merupakan salah satu subsektor ekonomi kreatif dengan jumlah terbanyak di Kabupaten Sleman. Berdasarkan Statistik Budaya DIY 2017, pada tahun 2017 jumlah organisasi seni pertunjukan mencapai 2332 unit. Jumlah tersebut mencakup seni musik, senit teater, dan seni tari tradisional, dan seni tari kontemporer. Berbagai kelompok seni tersebut berbentuk sanggar maupun paguyuban. 

Akan tetapi ruang yang difungsikan secara khusus untuk mengakomodasi kegiatan seni pertunjukan masih terbatas. Hal tersebut berdampak pada terhambatnya pertumbuhan ekosistem kesenian di Sleman. Berdasarkan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) Kabupaten Sleman, di tahun 2019 permasalahan yang terjadi di bidang kebudayaan adalah minimnya infrastruktur untuk pengadaan kegiatan kebudayaan dan terbatasnya ruang untuk berekspresi.

Maka dari itu, perancangan ruang kreatif seni pertunjukan menjadi suatu keperluan untuk mewadahi kreativitas pelaku seni pertunjukan. Ruang kreatif seni pertunjukan tidak hanya menjadi ruang apresiasi, melainkan menjadi ruang ketiga untuk berinteraksi antara komunitas seni pertunjukan dan komunitas masyarakat. Interaksi menciptakan kolaborasi. Adanya kolaborasi antara komunitas seni pertunjukan dan masyarakat, akan berdampak baik pada peningkatan ekonomi kreatif di Sleman karena terjadi multiplier effect di dalamnya. Oleh karena itu, kehadiran ruang kreatif seni pertunjukan diharapkan dapat menjadi katalisator tumbuhnya ekosistem seni yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak luas bagi masyarakat Sleman.

Sleman possesses a wide range of tangible and intangible cultural assets. Various performing arts practitioners have emerged across different areas, contributing to the growth of Sleman's evolving art ecosystem. These practitioners hold great potential in advancing the creative economy industry as a pillar of regional development. Performing arts is one of the largest creative economy subsectors in Sleman Regency. According to the 2017 Yogyakarta Cultural Statistics, the number of performing arts organizations in 2017 reached 2,332 units, encompassing music, theater, traditional dance, and contemporary dance. These groups exist in the form of studios and art communities.

There is currently a lack of dedicated spaces specifically designed to accommodate performing arts activities, which hampers the development of Sleman's artistic ecosystem. Based on the 2019 Sleman Regency Government Performance Report (LKIP), one of the key issues in the cultural sector is the limited infrastructure for cultural activities and the scarcity of spaces for creative expression.

Therefore, the design of a creative space for performing arts has become essential to accommodate the creativity of performing artists. This space should not only serve as a place for appreciation but also act as a "third place" that fosters interaction between the performing arts community and the wider public. Such interaction encourages collaboration. Collaboration between performing arts communities and society can positively impact the growth of Sleman’s creative economy by generating a multiplier effect. Hence, the presence of a performing arts creative space is expected to become a catalyst for an inclusive, sustainable, and impactful art ecosystem in Sleman. 

Kata Kunci : Ruang Kreatif, Seni Pertunjukan, Ekonomi Kreatif, Ruang Ketiga

  1. S1-2025-478256-abstract.pdf  
  2. S1-2025-478256-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-478256-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-478256-title.pdf