Laporkan Masalah

Representasi penjajahan Jepang dalam Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer dan Mansejeon karya Yeom Sangseop: Sebuah Perbandingan

KIM BOYEON, Prof. Dr. Faruk, S.U.

2025 | Tesis | S2 Sastra

 

Karya sastra Indonesia dan Korea Selatan berlatar masa penjajahan Jepang berperan dapat merepresentasikan pandangan kolektif masyarakat dalam merespon situasi penjajahan Jepang yang menggambarkan bentuk-bentuk perlawanan baik secara terbuka maupun tersirat.   Representasi penjajahan Jepang pada novel Perburuan (2002)  karya Pramoedya Ananta Toer dan novel Mansejeon (2012)  karya Yeom Sang-seop menarik untuk dikaji dengan strukturalisme genetik Goldmann. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis realitas struktural masyarakat Indonesia dan Korea pada masa penjajahan Jepang yang direpresentasikan dalam novel Perburuan dan novel Mansejeon.Penelitian ini menggunakan pendekatan dialektik (metode dialektik) dan pendekatan hermeneutik. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka berdasarkan sumber primer berupa teks novel dan sumber sekunder berupa literatur pendukung yang relevan yang memiliki keterkaitan dengan objek dan kerangka teori. Teknik analisis data dilakukan beberapa tahap yakni analisis struktur intrinsik; rekonstruksi konteks sosial-historis yang menjadi latar penciptaan karya; analisis homologi; dan penafsiran pandangan dunia yang terkandung dalam novel. Hasil penelitian menemukan bahwa kedua novel tersebut merupakan ekspresi kesadaran kolektif kelas intelektual yang lahir dari pengalaman penjajahan Jepang. Perbedaan paling mendasar muncul dari situasi dan kondisi ketika kedua novel ditulis. Pramoedya menegaskan bahwa martabat manusia dan bangsa Indonesia terletak pada kemerdekaan politik. Sebaliknya, bagi Yeom Sang-seop martabat bagi bangsa Korea lebih ditekankan pada kemerdekaan sosial, budaya, dan ekonomi. Dengan bekal pendidikan modern itu, Pramoedya dan Yeom Sang-seop menuliskan pengalaman kolektif bangsanya dalam bentuk novel yang menyuarakan kegelisahan, penderitaan, sekaligus harapan masyarakatnya. Dengan demikian, kedua novel merupakan pandangan dunia yang berbeda tetapi sama-sama lahir dari pengalaman kolektif bangsa yang terjajah.

 


Indonesian and South Korean literary works set during the Japanese occupation play a significant role in representing the collective perspectives of society in responding to the colonial situation, capturing both overt and subtle forms of resistance. The depiction of Japanese colonialism in Pramoedya Ananta Toer's novel *Perburuan* (2002) and Yeom Sang-seop’s *Mansejeon* (2012) is particularly compelling to examine through the lens of Goldmann's genetic structuralism. This research aims to analyze the structural realities of Indonesian and Korean societies during the Japanese occupation as represented in both novels. The study employs a dialectical approach (dialectical method) alongside a hermeneutic approach. Data collection techniques involve literature studies, utilizing the primary sources of the novels’ texts and secondary sources in the form of relevant supporting literature connected to the subject and theoretical framework. Data analysis is conducted through several stages: analysis of intrinsic structure; reconstruction of the socio-historical context underlying the creation of the works; homology analysis; and interpretation of the worldviews embedded in the novels. The findings reveal that both works express the collective consciousness of the intellectual class, born from the experience of Japanese occupation. The most fundamental differences arise from the circumstances and conditions under which the two novels were written. Pramoedya emphasizes that the dignity of individuals and the Indonesian nation lies in political independence. In contrast, for Yeom Sang-seop, dignity for the Korean nation is more closely linked to social, cultural, and economic independence. Equipped with modern education, both Pramoedya and Yeom Sang-seop record their nations’ collective experiences in novels that voice the restlessness, suffering, and hope of their people. Thus, both novels present different worldviews, yet each arises from the shared collective experience of an oppressed nation.

Kata Kunci : novel, pandangan dunia, penjajahan Jepang, representasi, strukturalisme genetik.

  1. S2-2025-531104-abstract.pdf  
  2. S2-2025-531104-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-531104-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-531104-title.pdf