Latar Belakang Pemilihan Adegan Cerita Pada Relief Ramayana di Candi Induk Panataran, Blitar, Jawa Timur
Kyra Andhayu Noer, Dr. Tjahjono Prasodjo, M.A.
2025 | Tesis | S2 Arkeologi
Penelitian ini mengkaji relief Ramayana di Candi Induk Panataran. Fokus penelitian diarahkan pada dua permasalahan utama, yaitu mengapa hanya adegan-adegan tertentu saja yang dipilih untuk dipahatkan dan bagaimana pemilihan tersebut berkaitan dengan kondisi politik kerajaan Majapahit. Untuk menjawab masalah tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan filoarkeologi untuk membantu menjelaskan fenomena arkeologi yang berkaitan dengan naskah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilihan adegan dilakukan secara selektif dan tidak mengikuti urutan kronologis pada kakawin. Narasi berpusat pada episode “Hanuman Duta” dan pertempuran besar di Alengka, sementara bagian awal dan akhir epos sengaja dihilangkan. Strategi seleksi ini dinilai mengandung muatan politik di era Majapahit, sehingga relief difungsikan sebagai medium komunikasi publik untuk meneguhkan legitimasi penguasa, khususnya pada masa pemerintahan Tribhuwanatunggadewi. Dengan demikian, relief Ramayana di Candi Induk Panataran tidak hanya merepresentasikan nilai estetika, tetapi juga berperan sebagai propaganda visual bersifat monumental yang telah melalui proses transformasi kreatif.
This study examines the Ramayana reliefs at the Main Temple of Candi Panataran. The research focuses on two central questions, why only certain episodes of the Ramayana were selected for depiction and how these choices were related to the political condition of the Majapahit kingdom. To address these questions, this study employs a philoarchaeological approach to elucidate archaeological phenomena in relation to textual sources.
The findings reveal that the selection of episodes was highly selective and did not follow the chronological order of the kakawin. The narrative centers on the “Hanuman Duta” episode and the great battle in Alengka, while the opening and concluding sections of the epic were deliberately omitted. This selective strategy is interpreted as bearing political significance in the Majapahit era, positioning the reliefs as a medium of public communication intended to affirm royal legitimacy, particularly during the reign of Tribhuwanatunggadewi. Thus, the Ramayana reliefs at Panataran function not merely as aesthetic representations but also as monumental visual propaganda, created through a process of creative transformation between text and political context.
Kata Kunci : Relief Ramayana; Candi Induk Panataran; filoarkeologi; legitimasi kekuasaan; transformasi kreatif