MENULIS ULANG HANTU PEREMPUAN INDONESIA: Praksis Dekolonial Intan Paramaditha dalam Kumpulan Cerita Pendek Sihir Perempuan
Zahara Nisa Fadila, Dr.phil. Ramayda Akmal, S.S., M.A.
2025 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan Media
Hantu dan entitas supranatural perempuan telah lama menjadi bagian integral dalam lanskap budaya Indonesia, membentuk sistem kepercayaan, dan mewarnai kesenian. Namun, representasi mereka mengalami pergeseran makna signifikan, terutama sejak masa kolonial menjadi lebih derogatif dan identik dengan teror. Pergeseran ini dipengaruhi oleh masuknya genre gotik Barat dan upaya depolitisasi figur seperti Nyi Roro Kidul oleh pemerintah kolonial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praksis dekolonial yang dilakukan oleh Intan Paramaditha dalam kumpulan cerita pendek Sihir Perempuan. Secara spesifik, penelitian ini mengkaji bagaimana Intan Paramaditha melakukan dekolonialisasi hantu perempuan dan merepolitisasi sosok Ratu Pantai Selatan (Nyi Roro Kidul) dalam karyanya. Dengan menggunakan kerangka pemikiran dekolonial dan pendekatan discourse-historical approach (DHA), analisis menunjukkan bahwa Intan Paramaditha berupaya mendekolonialisasi hantu perempuan dengan menghadirkan representasi yang lebih kompleks dan mendobrak stereotip (“Pintu Merah”, “Mobil Jenazah”, “Misteri Polaroid”), meskipun upaya ini terkadang masih bersifat ambivalen dan menunjukkan kontradiksi. Namun, dalam cerpen “Sang Ratu”, strategi dekolonialisasi dilakukan secara lebih taktis dengan mengembalikan kompleksitas dan merepolitisasi peran Nyi Roro Kidul melalui wacana tandingan terhadap narasi kolonial dan patriarkal. Kesimpulannya, Sihir Perempuan karya Intan Paramaditha berhasil mendekonstruksi representasi hantu perempuan dan mereposisi figur Nyi Roro Kidul melalui pendekatan dekolonial yang kritis serta membuka ruang pembacaan ulang yang lebih adil terhadap warisan budaya lokal yang terpinggirkan.
Female ghosts and supernatural entities have long been an integral part of Indonesia's cultural landscape, shaping belief systems and influencing the arts. However, their representation has undergone a significant semantic shift, particularly since the colonial era, becoming more derogatory and synonymous with terror. This shift was influenced by the introduction of the Western Gothic genre and the colonial administration's efforts to depoliticize figures such as Nyi Roro Kidul. This research aims to analyze Intan Paramaditha's decolonial praxis in her short story collection, Sihir Perempuan (Woman's Magic/Magic of Women). Specifically, this study examines how Intan Paramaditha decolonizes female ghosts and repoliticizes the figure of the Queen of the Southern Sea (Nyi Roro Kidul) in her work. Employing a decolonial framework and the discourse-historical approach (DHA), the analysis indicates that Intan Paramaditha attempts to decolonize female ghosts by presenting more complex representations that challenge stereotypes (in "Pintu Merah," "Mobil Jenazah," "Misteri Polaroid"), although these efforts are at times partial and reveal contradictions. However, in the short story "Sang Ratu," the decolonization strategy is more strategically implemented, restoring the complexity and repoliticizing the role of Nyi Roro Kidul through a counter-discourse against colonial and patriarchal narratives. In conclusion, Intan Paramaditha's Sihir Perempuan successfully deconstructs the representation of female ghosts and repositions the figure of Nyi Roro Kidul through a critical decolonial approach, opening avenues for a more equitable rereading of marginalized local cultural heritage.
Kata Kunci : hantu perempuan, Nyi Roro Kidul, entitas supranatural, Sihir Perempuan, dekolonial, feminisme dekolonial