Laporkan Masalah

Jawa Bukan, Sunda Enggan: Konstruksi Identitas Kecirebonan dan Keindramayuan dalam Kontestasi Bahasa, Seni, dan Ritus

Akhmad Jauhari, Prof. Dr. Sugeng Bayu Wahyono, M.Si.

2025 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan Media

Tesis ini membahas konstruksi identitas kecirebonan dan keindramayuan dalam kontestasi bahasa, seni, dan ritus. Cirebon dan Indramayu merupakan kabupaten/kota yang berada di perbatasan kultural Jawa dan Sunda di Pantura Jawa Barat. Konstruksi identitas ini dipicu peran pegiat budaya dari akar rumput, serta regulasi yang dibuat dan diterapkan pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menganalisis penyebab munculnya konstruksi identitas kecirebonan dan keindramayuan dalam kontestasi kultural tersebut. Desain penelitian ini adalah Studi Kasus dengan pendekatan teori Identitas dan Transkulturalitas. Hasil penelitian dalam tesis ini, identitas kecirebonan dan keindramayuan adalah identitas yang mengambang atau in between di antara kultur Jawa dan Sunda. Ini adalah identitas hibrida yang lahir dari proses transkulturalitas, namun disikapi berbeda oleh para pegiat budaya di Cirebon dan Indramayu. Pegiat Cirebon memandang identitas tersebut sebagai identitas baku dan tidak dinamis. Mereka beranggapan Cirebon memiliki kejayaan masa lalu yang pengaruhnya sampai ke wilayah sekitar termasuk Indramayu hingga sekarang. Hal ini mewujud dalam konsep Wilayah Kebudayaan Cirebon yang meliputi Indramayu, Kuningan, dan Majalengka. Sedangkan pegiat Indramayu memberlakukan identitas sebagai sesuatu yang politis dengan berusaha lepas dari konstruksi yang dilakukan Cirebon. Saat Cirebon cenderung esensialis dalam menyikapi identitas, Indramayu cenderung konstruktivis dengan motif tersendiri seperti kepentingan, proyek pemerintah, dan lainnya. Konstruksi yang demikian dipicu negara melalui regulasi dan produk budaya pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota yang cenderung menyimplifikasi dan menciptakan esensialisme budaya. Negara, dalam hal ini pemerintah formal, melakukan hal tersebut tanpa melihat struktur sosial kompleks yang ada di masyarakat Cirebon dan Indramayu. 

This thesis elaborates the construction of Cirebon and Indramayu identities in the contestation of language, art, and rituals. Cirebon and Indramayu are regency and municipality located on the cultural border of Java and Sunda in the Pantura region of West Java. This identity construction is driven by the role of grassroots cultural activists, as well as regulations created and implemented by the central, provincial, and regency/municipality governments. The purpose of this research is to describe and analyze the causes of Cirebon and Indramayu identities in this cultural contestation. The research design in this research is a Case Study with an Identity and Transculturalism theory approach. The results of this thesis indicate that Cirebon and Indramayu identities are floating identities, or in-between, those identities lie between Javanese and Sundanese cultures. This is a hybrid identity that is the result of transculturality, but cultural activists in Cirebon and Indramayu perceive it differently. Cirebon cultural activists view these identities as fixed and stagnant. They believe Cirebon has a glorious past whose influence extends to the surrounding areas, including Indramayu, to the present day. This is embodied in the concept of the Cirebon Cultural Region, which encompasses Indramayu, Kuningan and Majalengka. Meanwhile, Indramayu cultural activists implement identity as something political, attempting to extricate from Cirebon's constructions. While Cirebon tends to be essentialist in its approach to identity, Indramayu tends to be constructivist, driven by its own motives, such as interests, government projects, and so on. This construction is driven by the state through regulations and cultural products from the central, provincial, and district/municipality governments, which tend to simplify the problem and create cultural essentialism. The state, in this case the formal government, does this without considering the complex social structures existing within the Cirebon and Indramayu communities.

Kata Kunci : Konstruksi Identitas, Cirebon, Indramayu, Kontestasi, Transkulturalitas

  1. S2-2025-512668-abstract.pdf  
  2. S2-2025-512668-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-512668-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-512668-title.pdf