Transit, Transisi, dan Transmisi: Pertunjukan Wayang On The Street di Kota Lama Semarang
Dwi Yullastuti, Dr. Rr. Paramitha Dyah F., M.Hum.; Dr. Wiwik Sushartami, M.A.
2025 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa
Pertunjukan Wayang On The Street (WOTS) merupakan pertunjukan wayang orang tradisional yang diadaptasikan dalam ruang publik di kawasan wisata Kota Lama Semarang. Pertunjukan WOTS lahir dari kemerosotan kesenian sebelumnya, yaitu wayang orang Ngesti Pandowo yang dipengaruhi oleh konteks lingkungan dan sosial yang melingkupinya. Penelitian ini bertujuan untuk membahas makna prosesual perjalanan kesenian WOTS yang telah mengalami pergeseran ruang dan waktu melalui batas geografis dan sosial, serta diikuti perubahan fungsi, nilai, dan status tertentu. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analisis-kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Kajian ini memadukan teori struktur dan tekstur dramatik dari George Kernodle untuk memahami makna tekstual pertunjukan dan teori transit dan transisi dari Maruska Svasek serta teori transmisi budaya dari Cavalli Sforza dan Feldman untuk memahami makna kontekstual pertunjukan. Melalui perpaduan teori tersebut digunakan untuk membaca makna prosesual dalam perjalanan WOTS di Kota Lama Semarang secara keseluruhan.
Hasil penelitian ini menunjukkan proses transit yaitu perpindahan wayang orang Ngesti Pandowo dari ruang tertutup (Gedung Ki Narto Sabdo) ke ruang terbuka (Kota Lama Semarang) dengan tajuk baru ‘Wayang On The Street’ (WOTS). Perpindahan ini sebagai bentuk ekspansi yang didasari oleh kemerosotan Ngesti Pandowo. Selain sebagai bagian dari reproduksi seni tradisi, kegiatan WOTS dimanfaatkan sebagai promosi warisan budaya dalam konteks pariwisata di Kota Lama Semarang. Transisi tampak pada perubahan fungsi dan beberapa aspek bentuk pertunjukan WOTS, sebagai promosi di kawasan wisata Kota Lama Semarang, sehingga mengalami perubahan dalam beberapa aspek teknis dan visualisasi pertunjukannya. Proses transit dan transisi melahirkan ruang baru bagi terjalinnya transmisi budaya melalui model pentahelix yang mengintegrasikan berbagai pihak: pemerintah, akademisi, pengusaha/swasta, masyarakat/komunitas, dan media dalam mentransfer berbagai elemen penting kebudayaan, seperti nilai-nilai moral wayang orang, teknik seni pertunjukan, bahasa dan sastra Jawa, sejarah dan identitas budaya lokal dan menekankan inovasi untuk mendukung pelestarian, pemanfaatan serta pemajuan kebudayaan dan pariwisata budaya di Kota Semarang.
Wayang On The Street (WOTS) is a traditional wayang orang (human puppet) performance adapted to a public space within the Old Town tourist area of Semarang. The WOTS performance emerged in response to the decline of a previous art form, Wayang Orang Ngesti Pandowo, which had weakened due to its disconnection from its surrounding environmental and social contexts. This study aims to explore the processual meaning behind the evolution of WOTS, which has undergone spatial and temporal shifts across geographical and social boundaries, accompanied by changes in function, value, and cultural status. The research employs a qualitative-analytical approach using a case study method. It integrates George Kernodle’s theory of dramatic structure and texture to interpret the textual meaning of the performance, alongside Maruska Svasek’s theories of transit and transition and Cavalli Sforza and Feldman’s theory of cultural transmission to examine its contextual significance. This theoretical combination is used to interpret the processual meaning embedded in WOTS's journey within Semarang’s Old Town.
The findings indicate a transit process, namely the relocation of Wayang Orang Ngesti Pandowo from an enclosed venue (Gedung Ki Narto Sabdo) to an open public space (Old Town Semarang) under a new concept called Wayang On The Street (WOTS). This relocation represents a form of expansion driven by the decline of Ngesti Pandowo. In addition to serving as a reproduction of traditional arts, WOTS also functions as a promotional medium for cultural heritage within the context of tourism in Old Town Semarang. The transition is evident in the shift in function and form of the WOTS performance, especially as it adapts to its role in promoting the tourist area, resulting in several technical and visual modifications to the performance. These processes of transit and transition have created a new space for cultural transmission through a pentahelix model, integrating multiple stakeholders: government, academia, private sector, communities, and the media, to transfer key elements of cultural heritage such as the moral values of wayang orang, performance techniques, Javanese language and literature, and local cultural history and identity. This process emphasizes innovation to support the preservation, utilization, and advancement of culture and cultural tourism in Semarang City.
Kata Kunci : Wayang On The Street, Transit dan Transisi, Transmisi Budaya, Pariwisata Kota Lama Semarang