Pengaruh Perceived Hybrid Working Arrangement Terhadap Intensi Tetap Tinggal Dengan Keterikatan Karyawan Sebagai Variabel Pemediasian (Studi Pada Karyawan Generasi Milenial PT XYZ)
Dani Kristiana, Indrayanti, S.Psi., M.Si., Ph.D., Psikolog
2025 | Tesis | S2 MANAJEMEN (MM) JAKARTA
Tingginya intensi
keluar karyawan menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi organisasi
dalam mempertahankan talenta. Survei global menunjukkan bahwa sebagian besar
karyawan mempertimbangkan untuk meninggalkan organisasi apabila tidak diberikan
fleksibilitas kerja yang memadai. Dalam konteks ini, menciptakan strategi
retensi yang efektif menjadi krusial, salah satunya dengan meningkatkan intensi
tetap tinggal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Perceived Hybrid Working Arrangement (PHWA)
terhadap Intensi Tetap Tinggal (ITS),
dengan Keterikatan Karyawan (EE) sebagai variabel mediasi.
Studi dilakukan
pada karyawan generasi milenial di PT XYZ yang telah menerapkan sistem kerja
hybrid sejak tahun 2022. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan cross sectional. Pengumpulan data
dilakukan melalui survei terhadap 144 responden valid, dan dianalisis
menggunakan metode Partial Least Squares
Structural Equation Modeling (PLS-SEM).
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa PHWA berpengaruh positif dan signifikan terhadap ITS, baik
secara langsung maupun tidak langsung melalui keterikatan karyawan. Nilai Variance Accounted For (VAF) sebesar
50,19% mengindikasikan bahwa keterikatan karyawan memainkan peran sebagai
mediator parsial yang penting. Temuan ini menegaskan bahwa fleksibilitas kerja
melalui sistem hybrid perlu diimbangi
dengan strategi peningkatan keterikatan karyawan agar efektif dalam membangun
loyalitas jangka panjang, khususnya bagi generasi milenial yang menghargai
keseimbangan hidup, otonomi, dan makna dalam pekerjaan.
Employee turnover intention remains a
critical concern for organizations striving to retain talented individuals.
Recent global surveys indicate that a substantial proportion of employees are
considering resignation, particularly in the absence of flexible working
arrangements. In this context, enhancing employees’ intention to stay has
become an essential component of organizational retention strategies. This
study aims to examine the influence of Perceived Hybrid Working Arrangement
(PHWA) on Intention to Stay (ITS), with Employee Engagement (EE) serving as a
mediating variable.
The study was conducted on millennial
employees at PT XYZ, which has implemented a hybrid working system since 2022.
This research employed a quantitative and cross-sectional approach. Data were
collected through a survey of 144 valid respondents and analyzed using the
Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) method.
The results reveal that PHWA has a positive
and statistically significant effect on ITS, both directly and indirectly
through employee engagement. The Variance Accounted For (VAF) value of 50.19%
indicates a partial mediation effect, emphasizing the importance of employee
engagement in strengthening employees’ intention to stay. These findings
suggest that hybrid work policies alone may not be sufficient; organizations
must also foster meaningful work environments that promote autonomy,
well-being, and a sense of purpose—particularly for millennial employees who
place high value on work-life balance and flexibility.
Kata Kunci : Kata kunci: intensi tetap tinggal, perceived hybrid working arrangement, keterikatan karyawan, generasi milenial, PLS-SEM / Keywords: intention to stay, perceived hybrid working arrangement, employee engagement, generation millennial, PLS-SEM