Laporkan Masalah

Evaluasi Pengelolaan Obat pada Puskesmas di Kabupaten Belu dan Strategi Perbaikan dengan Metode Hanlon

Melani Angela Indrayani Raymanus, Prof. Dr. apt. Satibi, M.Si. ; Dr. apt. Diah Ayu Puspandari, M.B.A.,M.Kes.

2025 | Tesis | Magister Manajemen Farmasi

Berdasarkan penelitian sebelumnya diketahui bahwa terdapat ketidaksesuaian antara pengelolaan obat dengan indikator pengelolaan obat. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi tingkat kesesuaian pengelolaan obat dengan Indikator Mutu Pengelolaan Obat, menganalisis pengaruh faktor pendukung terhadap  mutu pengelolaan obat serta merumuskan strategi perbaikan untuk meningkatkan mutu pengelolaan obat di Puskesmas.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatf dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui penelusuran dokumen pengelolaan obat tahun 2023 pada 17 Puskesmas di Kabupaten Belu yang kemudian dihitung kesesuaian 26 indikator terhadap semua obat dan vaksin di puskesmas, terkecuali indikator perencanaan obat, permintaan obat dan penerimaan obat yang menggunakan 40 obat indikator. Data kualitatif diperoleh dari proses wawancara mendalam terhadap 17 pengelola obat puskesmas, Penanggungjawab IFK, dan Pengelola Program Vaksin untuk mendapatkan informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pengelolaan obat. Selanjutnya, penyusunan strategi perbaikan menggunakan metode Hanlon melalui proses FGD melibatkan Kepala Bidang SDK, Penanggungjawab IFK, Kepala Puskesmas dan pengelola obat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 19 indikator belum memenuhi standar, yaitu: Kesesuaian item dengan Fornas 90,35%; Kesesuaian item dengan pola penyakit 91,59; Ketepatan Perencanaan 223,59%; Kesesuaian jumlah permintaan 197,76%; Kesesuaian jumlah penerimaan 65,06%; Penyimpanan sesuai suhu 90,39%; penyimpanan narkotika sesuai peraturan 94,12%; Tempat penyimpanan tidak dipergunakan untuk penyimpanan barang lainnya yang menyebabkan kontaminasi 98,66%; penyimpanan obat high alert 61,43%; penyimpanan obat LASA 61,09%; Ketepatan distribusi obat 59,39%; ITOR 5,42; Tingkat ketersediaan obat 32,31; Item stok kosong 2,54%; Item stok aman 51,41%; item stok berlebih 46,06%; Obat tidak diresepkan 3 bulan berturut-turut 23,94%; Nilai obat kedaluwarsa 4,72%; dan kesesuaian jumlah fisik 90,89%. Faktor organisasi dan kebijakan, sumber daya manusia, anggaran dan sistem informasi manajemen berpengaruh terhadap pengelolaan obat di puskesmas. Strategi perbaikan yaitu mengevaluasi perencanaan obat, pembaruan dan labelisasi obat high alert dan LASA, pemantauan berkala terhadap stok, pembaruan pedoman terapi, melakukan audit internal, penyusunan RKO setiap tahun, menyediakan sarana untuk pemantauan suhu penyimpanan obat, penambahan SDM,  mengoptimalkan penggunaan SIM, menerbitkan Formularium Kabupaten, dan menyediakan pelatihan pengelolaan obat.

Based on previous studies, it is known that there are still not suitable between drug management and drug quality indicators. The aims of this study was to evaluate the level of conformity of drug management with drug quality indicators, analyze the influence of management support at primary healthcare, and formulate improvement strategy to improve the quality of drug management at community health centers in Belu district.

This study is a descriptive study with a quantitative and qualitative approach. Quantitative data were obtained by tracing all drug management documents in 2023 at community health centers in Belu district, which then calculated the suitability of 26 indicators against all drugs and vaccines, except for the drug planning, drug demand, and drug receipt indicators, which used 40 drug indicators. Qualitative data were obtained from an in-depth interview process to obtain information about the factors that influence drug management. Next, the development of improvement strategies using the Hanlon method through the FGD process involves the Head of the SDK Division, the IFK Responsible Person, the Head of the primary health center, and the drug manager.

The results of the study showed that 20 indicators that did not meet the standards, namely: the conformity of items with Fornas 90.35%; items with disease patterns 91.59%; accuracy of planning 223,59%;  accuracy of the number requests 197,76%; accuracy of the number receipts 65,06%; storage according to temperature 90.39%7; storage of narcotics according to regulations 94.12%; storage places are not used for storing other goods that cause contamination 98.66%; storage of high alert drugs 61.43; storage of LASA drugs 61.09%; accuracy of drug distribution 59.39%; ITOR 5.42; drug availability level 32.31; empty stock items 2.54%; safe stock items 51.41; Excess stock items 46.06%; Drugs not prescribed for 3 consecutive months 23.9%4; Expired drug value 4,72%; and suitability of physical quantity 90.89. Organizational and policy, human resources, budget and management information systems influence drug management in Belu district community health centers. Improvement strategies include: drug planning, updating and labeling high alert and LASA drugs, regular monitoring of stock, updating therapy guidelines, conducting internal audits, preparing annual RKO, providing facilities for monitoring drug storage temperatures, adding employees, optimizing the use of SIM, issuing the District Formulary, and providing drug management training.

Kata Kunci : Metode Hanlon, pengelolaan obat, puskesmas, strategi perbaikan

  1. S2-2025-527580-abstract.pdf  
  2. S2-2025-527580-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-527580-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-527580-title.pdf