Strategi Komunikasi Publik Program Mengolah Limbah dan Sampah dengan Biopori Ala Jogja (Mbah Dirjo) Sebagai Upaya Membangun Partisipasi Masyarakat
Putri Rizqia Fatta, Dr. Samodra Wibawa, M.Sc.
2025 | Skripsi | ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)
Isu darurat sampah menjadi polemik panjang di Kota Yogyakarta. Isu ini menjadi semakin kompleks terutama setelah TPST Piyungan diputuskan untuk ditutup. Menanggapi situasi ini, Forum Bank Sampah (FBS) Kota Yogyakarta menginisiasi Program Mbah Dirjo (Mengolah Limbah dan Sampah dengan Biopori Ala Jogja) sebagai upaya pengelolaan sampah organik melalui metode biopori ala Jogja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi publik yang digunakan dalam Program Mbah Dirjo dengan analisis SOSTAC (Situation Analysis, Objectives, Strategy, Tactics, Action, Control), serta melihat keterkaitannya dengan partisipasi masyarakat melalui tiga indikator: keberadaan kelompok partisipatif, adanya kesempatan terlibat dalam semua tahap kegiatan, dan adanya ruang untuk menyampaikan pendapat atau umpan balik.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan studi kasus. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan FBS Kota Yogyakarta, Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, dan masyarakat Kota Yogyakarta selaku pelaksana Program Mbah Dirjo. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa FBS Kota Yogyakarta menggunakan strategi "key person", strategi konten, dan strategi media dengan pendekatan top-down. Sosialisasi secara langsung dan penggunaan beberapa saluran media digunakan sebagai taktik dalam komunikasi publiknya. Rangkaian tahapan ini dilakukan dalam rangka menyebarluaskan informasi terkait alternatif pengolahan sampah organik yang lebih ramah lingkungan dengan metode biopori dan mendorong partisipasi masyarakat untuk turut serta memilah dan mengolah sampah organik ala Jogja ini. Melalui tiga indikator milik Marschall (2006) ini dapat disimpulkan bahwa komunikasi publik yang dilakukan FBS Kota Yogyakarta pada dasarnya telah berhasil membuka peluang partisipasi dan telah menghimpun partisipasi aktif dari masyarakat.
The issue of a waste emergency has become a prolonged controversy in Kota Yogyakarta. This issue has grown increasingly complex, particularly after the decision to close TPST Piyungan. In response to this situation, Forum Bank Sampah (FBS) Kota Yogyakarta initiated the "Mbah Dirjo" (Mengolah Limbah dan Sampah dengan Biopori Ala Jogja) as an effort to manage organic waste using the local biopore method. This study aims to analyze the public communication strategy used in the Mbah Dirjo Program through the SOSTAC analysis framework (Situation Analysis, Objectives, Strategy, Tactics, Action, Control), while also examining its relationship to community participation based on three indicators: the existence of participatory groups, the opportunity to be involved in all stages of activities, and the availability of the space to express opinions or feedback.
This research employs a qualitative method with a case study approach. Primary data were obtained through in-depth interviews with FBS Kota Yogyakarta, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, and local community members involved in implementing Mbah Dirjo Program. The results indicate that FBS Kota Yogyakarta implements "key person" strategy, content strategy, and media strategy using a top - down approach. Direct socialization and the use of media channels are employed as tactics in their public communication efforts. These steps are carried out to disseminate information regarding an environmentally friendly alternative for managing organic waste using the biopore method and to encourage public participation in sorting and processing organic waste. Based on Marschall's (2006) three indicators, it can be concluded that the public communication conducted by FBS Kota Yogyakarta has successfully opened avenues for participation and gathered active involvement from the community.
Kata Kunci : Strategi Komunikasi Publik, Program Mbah Dirjo, SOSTAC, Partisipasi Masyarakat, Pengelolaan Sampah Organik