Laporkan Masalah

Pemberdayaan Perempuan sebagai Pengemudi Ride-Hailing: Pembebasan atau Penjebakan?

Sarah Khairunnisa, Dr. Suci Lestari Yuana

2025 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Teknologi platform ride-hailing seperti Grab dan Gojek sering dinarasikan sebagai instrumen dan saluran pemberdayaan dengan memberikan akses ke lapangan tenaga kerja informal bagi kelompok-kelompok yang termarginalisasi dalam sektor kerja formal, termasuk perempuan. Penelitian ini menyoroti adanya kesenjangan teori dalam menjelaskan narasi pemberdayaan perempuan dengan realitas eksploitasi yang dialami oleh pengemudi perempuan di dalam platform tersebut. Mengadopsi kerangka kerja untuk mengukur pemberdayaan perempuan dari Naila Kabeer (1999), temuan utama dalam Dimensi Capaian menunjukkan bahwa alih-alih memberdayakan, platform ride-hailing justru memperkuat ketidaksetaraan gender dan ketidakberdayaan perempuan. Sebagai upaya mendekonstruksi narasi apolitis dalam neoliberalisasi pemberdayaan perempuan, penelitian ini mengadopsi konsep technocapitalism dan technofeminism untuk mengkaji bagaimana  platform ride-hailing merupakan produk sosial (socially shaped) dalam sistem patriarki-kapitalis. Penulis berargumen bahwa kegagalan untuk mencapai pemberdayaan substantif dan transformatif disebabkan oleh disfungsi dua dimensi  fundamental dari pemberdayaan—Sumber Daya sebagai prakondisi dan Agensi sebagai proses—yang memproduksi serta mengintensifikasi bentuk-bentuk opresi ganda. Eksploitasi terhadap perempuan ini dimungkinkan dan dilanggengkan melalui dua mekanisme, yakni perempuan sebagai tenaga kerja berupah rendah (underpaid labor) dalam kerja produktif dan perempuan sebagai tenaga kerja tidak berbayar (unpaid labor) dalam kerja reproduktif. Analisis gender mengenai pemberdayaan perempuan dalam ekonomi platform harus didekonstruksi dan direkonstruksi melalui pendekatan yang lebih adil dan inklusif untuk menangkap konteks dan dimensi sosial-politik yang sering terlewatkan dalam analisis konvensional. 

Ride-hailing platforms such as Grab and Gojek are often portrayed as instruments and avenues for empowerment by providing access to informal employment opportunities for marginalized groups in the formal labor sector, including women. This study highlights a theoretical gap in explaining the narrative of women's empowerment with the reality of exploitation experienced by female drivers on these platforms. Adopting Naila Kabeer's (1999) framework for measuring women's empowerment, the main findings in the Achievement Dimension show that, rather than empowering women, ride-hailing platforms actually reinforce gender inequality and women's vulnerability. In an effort to deconstruct the apolitical narrative in the neoliberalization of women's empowerment, this study adopts the concepts of technocapitalism and technofeminism to examine how ride-hailing platforms are socially shaped products within the patriarchal-capitalist system. The author argues that the failure to achieve substantive and transformative empowerment is attributed to the dysfunction of two fundamental dimensions of empowerment—Resources as a precondition and Agency as a process—which produce and intensify forms of double oppression. This exploitation of women is enabled and perpetuated through two mechanisms: women as underpaid labor in productive work and women as unpaid labor in reproductive work. Gender analysis of women's empowerment in the platform economy must be deconstructed and reconstructed through a more equitable and inclusive approach to capture the social-political context and dimensions that are often overlooked in conventional analysis.

Kata Kunci : analisis gender, pemberdayaan perempuan, platform ride-hailing, patriarki-kapitalis, tenaga kerja perempuan, opresi ganda

  1. S1-2025-473672-abstract.pdf  
  2. S1-2025-473672-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-473672-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-473672-title.pdf