Peran Musik Populer dalam Proses Binadamai: Studi Kasus Kamboja Pasca Genosida Khmer Merah
Marsha Cahyani Putri Widyatmodjo, Drs. Muhadi Sugiono, M.A.
2025 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran musik pop Khmer dalam mendukung upaya binadamai strategis di Kamboja, khususnya dalam konteks masyarakat pasca-konflik yang masih dibayangi oleh represi politik dan luka sejarah. Untuk menjawab pertanyaan penelitian, penulis menggunakan kerangka Peaces of Music yang dikembangkan oleh Gillian Howell sebagai alat analisis untuk mengidentifikasi variabel-variabel perdamaian yang muncul dalam proyek-proyek musik pop Khmer. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengklasifikasikan tipe-tipe perdamaian yang dimungkinkan; perdamaian yang berorientasi keadilan, perdamaian batin, dan perdamaian yang dibayangkan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa musik pop Khmer berfungsi sebagai ruang ekspresi sosial dan afektif yang memungkinkan masyarakat membangun keterhubungan, mengolah memori kolektif, serta membayangkan masa depan yang lebih damai—meskipun tidak secara langsung menuntut akuntabilitas struktural. Dalam konteks di mana keterbukaan politik terbatas dan gaya berkonflik masyarakat cenderung menghindar, jenis-jenis perdamaian yang terbentuk melalui musik pop cenderung bersifat subtil, non-konfrontatif, dan bertumpu pada dimensi afektif serta simbolik. Hal ini mencerminkan bentuk binadamai yang lebih bersifat subsisten dan kontekstual, di mana musik memainkan peran penting sebagai media perawatan identitas dan ketahanan sosial. Penelitian ini berkontribusi pada studi perdamaian dengan menyoroti pentingnya budaya populer sebagai medium alternatif dalam membangun perdamaian yang berakar pada keseharian masyarakat. Musik pop Khmer bukan sekadar produk hiburan, tetapi juga menjadi alat navigasi emosi, memori, dan harapan di tengah keterbatasan politik dan sosial yang masih berlangsung.
This research examines the role of Khmer pop music in supporting strategic peacebuilding efforts in Cambodia, particularly within a post-conflict society still marked by political repression and historical trauma. To address the research question, the author employs Gillian Howell’s Peaces of Music framework as an analytical tool to identify peace-related variables present in Khmer pop music projects. Based on these findings, the study classifies three dominant types of peace made possible through music: justice-oriented peace, inner peace, and imagined peace. The findings reveal that Khmer pop music functions as a space for social and affective expression, enabling the public to foster a sense of connection, process collective memory, and imagine a more peaceful future—even without directly confronting structural injustice. In a political context that limits open dissent and in a society where conflict is often navigated through avoidance, the forms of peace made possible through music tend to be subtle, non-confrontational, and rooted in affective and symbolic dimensions. This reflects a more subsistence-oriented and context-sensitive mode of peacebuilding, in which music plays a vital role in preserving identity and social resilience. This study contributes to peace studies by highlighting the significance of popular culture as an alternative medium for cultivating peace grounded in the everyday experiences of communities. Khmer pop music is not merely entertainment; it serves as a vehicle for navigating emotion, memory, and hope amid ongoing political and social constraints.
Kata Kunci : Musik pop Khmer, Kamboja, masyarakat pasca-konflik, binadamai berbasis musik, budaya populer, Khmer Merah, genosida, Asia Tenggara, studi perdamaian dan konflik, perlawanan budaya