Laporkan Masalah

DARI SENIMAN KE PENGUSAHA TATAH SUNGGING: LEDJAR SOEBROTO DAN INDUSTRI WAYANG KULIT LEDJAR HANDICRAFT, 1980 – 1994

Septa Dian Mayangsari, Dr. Arif Akhyat, M.A.

2025 | Skripsi | ILMU SEJARAH

Penelitian ini membahas perjalanan Ledjar Soebroto dalam membangun Industri Wayang Kulit Ledjar Handicraft 1980 – 1994. Sebagai seorang seniman tatah sungging dan kemudian bertransformasi menjadi pengusaha, Ledjar memainkan peran penting dalam mempertahankan dan mengembangkan seni kerajinan wayang kulit di tengah perubahan sosial dan ekonomi Indonesia. Awalnya ia belajar seni tatah sungging dari dalang kenamaan Nartosabdo, sebelum akhirnya mendirikan toko kerajinannya sendiri. Produksi dari indsutri wayang kulitnya tidak hanya memenuhi kebutuhan pertunjukan tradisional, tetapi juga merambah pada wayang-wayang kreasi yang disesuaikan dengan permintaan pasar.

Ledjar Soebroto membangun relasi sosial dalam dan luar negeri melalui jalur personal maupun institusional. Strategi komersialisasi yang ia terapkan tidak sekadar berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga bertujuan menjaga keberlanjutan warisan budaya. Produksi wayangnya yang fleksibel dan bernilai artistik tinggi berhasil menarik perhatian pembeli dalam negeri ataupun luar negeri. Penelitian ini menunjukkan bagaimana industri kecil berbasis tradisi dapat berkembang melalui integritas antara produksi yang berkualitas, relasi sosial, dan adaptasi terhadap pasar modern.

Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang menggunakan sumber primer dan sekunder. Mayoritas sumber primer dalam penelitian ini adalah arsip pribadi Ledjar Soebroto berupa foto, surat pribadi, serta kliping yang memuat surat kabar dan majalah. Sementara itu, sumber sekunder yang digunakan berasal dari buku dan artikel jurnal dengan topik bahasan serupa. Selain itu, juga ada wawancara sejarah lisan dengan keluarga pelaku yang berkaitan erat dengan tema penelitian ini.

This research explores the journey of Ledjar Soebroto in establishing the Ledjar Handicraft shadow puppet industry from 1980 to 1994. As a tatah sungging (traditional shadow puppet carving and painting) artist who later transformed into an entrepreneur, Ledjar played a pivotal role in preserving and developing the art of shadow puppet craftsmanship amid Indonesia’s social and economic transformations. He initially studied the tatah sungging craft under the renowned dalang Nartosabdo, before eventually founding his own craft workshop. His shadow puppet production not only met the needs of traditional performances, but also expanded into creative puppets tailored to market demand.

Ledjar Soebroto built social networks both domestically and internationally, through personal as well as institutional channels. His commercialization strategies were not merely focused on economic gain but also aimed to ensure the sustainability of cultural heritage. The flexibility and high artistic value of his puppets successfully attracted buyers from both local and international markets. This study demonstrates how a small, tradition-based industry can grow through the integration of quality production, social relationships, and adaptation to the modern market.

This study employs historical research methods using both primary and secondary sources. The primary sources consist mainly of Ledjar Soebroto’s personal archives, including photographs, personal letters, and clippings from newspapers and magazines. The secondary sources used in this research are books and journal articles with related topics. Additionally, oral history interviews were conducted with family members closely connected to the subject of this study.

Kata Kunci : Ledjar Soebroto, Industri Tatah Sungging, Komersialisasi Seni, Yogyakarta

  1. S1-2025-474711-abstract.pdf  
  2. S1-2025-474711-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-474711-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-474711-title.pdf