SIMBOL MAKNA MASKULINITAS OLEH MUSISI TAKAYAN: ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES
CHAIRUL ARYA WICAKSONO, Akbar Rizqi Dhea Habibi, S. S., M. A.
2025 | Skripsi | SASTRA JEPANGKemajuan budaya musik di Jepang yang semakin pesat dan dipengaruhi oleh budaya barat yang mulai masif di Jepang, membawa perubahan dalam bentuk, gaya, dan cara penyampaian musisi, kepada penggemarnya. Takayan merupakan musisi Jepang yang sukses menyebarkan karyanya melalui YouTube. Gaya berpakaian yang ia tampilkan dalam musik videonya memunculkan pertanyaan tentang bagaimana masyarakat Jepang memaknai fenomena maskulinitas yang tidak biasa. Fokus utama dari penelitian ini adalah simbol-simbol maskulinitas yang ditampilkan oleh Takayan dan bagaimana representasi tersebut memengaruhi pandangan gender dalam budaya populer di Jepang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif serta analisis semiotika yang diciptakan oleh Roland Barthes untuk menganalisis tiga musik video: Bad Example, Life is Bitchi!, dan Love Beam. Penelitian ini menunjukkan bahwa Takayan mencoba menampilkan gaya maskulinitas yang berbeda lewat busana pastel, aksesori lucu, serta gerakan dan ekspresi yang lembut, khas gaya genderless-kei dan soushokukei danshi. Meski begitu, ia masih berusaha mempertahankan sisi maskulin tradisional seperti tubuh berotot dan pakaian jas. Gabungan keduanya membentuk citra maskulinitas yang lebih bebas dan ekspresif. Temuan ini membuktikan bahwa Takayan berusaha menyampaikan bahwa penampilannya bukan sekedar estetika, namun bentuk penyampaian emosi, diwujudkan dalam elemen-elemen yang ia tampilkan secara konsisten, dan membentuk pola maskulinitas yang lebih cair.
The advancement of music culture in Japan, influenced by western culture, has brought about changes in the form, style and delivery of musicians to their fans. Takayan is a Japanese musician who has successfully spread his work through YouTube. The style of dress he displays in his music videos raises questions about how Japanese society interprets the phenomenon of unusual masculinity. The main focus of this research is the symbols of masculinity displayed by Takayan and how these representations influence gender views in Japanese popular culture. This research uses descriptive qualitative methods as well as semiotic analysis created by Roland Barthes to analyze three music videos: Bad Example, Life Is a Bitch!, and Love Beam. The research shows that Takayan displays a different style of masculinity through pastel clothing, cute accessories, and soft movements and expressions, typical of genderless-kei danshi and soushokukei danshi styles. However, he still retains traditional masculine traits such as a muscular body and suits. The two combined form a more flexible and expressive image of masculinity. The finding proves that Takayan is trying to convey that his appearance is not just aesthetic, but a form of conveying emotions, embodied in the elements he consistently displays, and forming a more fluid pattern of masculinity.
Kata Kunci : Takayan, Maskulinitas, Semiotika Roland Barthes, Budaya Pop Jepang