Evaluasi Capaian Program Relokasi Warga Terdampak Proyek Pengendalian Banjir dan Rob sebagai Bagian dari Subprogram Tuku Lemah Oleh Omah di Kampung Bugisan Kota Pekalongan
Neysa Nabila, Ir. Deva Fosterharoldas Swasto, S.T., M.Sc., Ph.D., IPM
2025 | Skripsi | PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
Perkembangan perumahan dan permukiman di wilayah perkotaan Indonesia dipengaruhi oleh pesatnya pertumbuhan penduduk, sementara lahan terbatas. Hal ini mendorong MBR mencari hunian alternatif di kawasan kumuh dan liar. Di Kota Pekalongan, Kampung Bugisan menjadi salah satu wilayah dengan kondisi tersebut, diperparah oleh banjir dan rob akibat luapan Sungai Loji dan kenaikan permukaan air laut. Untuk menanggulanginya, pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Pemali Juana melaksanakan proyek pengendalian banjir dan rob yang mengharuskan relokasi 22 KK dari permukiman kumuh-ilegal di bantaran Sungai Loji. Dari jumlah tersebut, hanya 20 KK yang mengikuti program relokasi sebagai bagian dari Subprogram Tuku Lemah Oleh Omah, dan menjadi fokus dalam penelitian ini. Relokasi yang kerap mengabaikan jaminan hak bermukim warga perlu dievaluasi agar dapat memastikan aspek keamanan dan legalitas hunian tetap terpenuhi. Warga direlokasi ke perbatasan Kelurahan Krapyak-Klego yang meskipun lebih aman, tetap berada di kawasan rawan banjir menurut RDTR. Penelitian ini menggunakan metode deduktif kualitatif dengan pendekatan survei primer-sekunder, observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi literatur. Unit amatan mencakup variabel evaluasi capaian program dan faktor-faktor yang memengaruhinya, sedangkan unit analisisnya adalah persepsi 20 KK yang direlokasi, serta pendamping/pelaksana dan stakeholders terkait. Hasil analisis menunjukkan bahwa capaian program relokasi dinilai optimal, dengan dukungan/bantuan lanjutan dari kolaborasi kemitraan, meskipun beberapa penerima manfaat belum menempati hunian baru akibat keterbatasan swadaya. Perbaikan masih diperlukan, khususnya pada aspek efisiensi dan kecukupan program. Faktor paling berpengaruh dalam keberhasilan relokasi adalah sumber daya, komunikasi, kondisi sosial ekonomi politik, diikuti disposisi, serta didukung oleh respons positif masyarakat lokal di wilayah relokasi.
The development of housing and settlements in Indonesia’s urban areas faces significant challenges due to rapid population growth amid limited land availability. This compels low-income communities (MBR) to seek alternative housing in slums and informal settlements, often in high-risk areas. Kampung Bugisan in Pekalongan City exemplifies this problem, experiencing additional challenges from flooding and tidal inundation caused by Loji River overflow and rising sea levels. To address these issues, the central government through the Pemali Juana River Basin Organization (BWS) implemented a flood and tidal control project requiring relocation of 22 households living illegally along the riverbank. Twenty households participated in the relocation program under the Tuku Lemah Oleh Omah subprogram, forming this study’s focus. Relocation programs frequently neglect residents’ housing rights, necessitating evaluation to ensure housing safety and legality are maintained. Residents were relocated to the Krapyak-Klego subdistrict border area, which though safer, remains classified as flood-prone according to the Spatial Detail Plan (RDTR). This research employed qualitative deductive methodology involving primary-secondary surveys, observations, interviews, documentation, and literature review. Observation units included variables evaluating program outcomes and influencing factors, while analysis units focused on perceptions of relocated households, facilitators, implementers, and stakeholders. Findings indicate optimal program results supported by supplementary programs from various parties, though some beneficiaries haven’t occupied new homes due to limited self-help capacity. Improvements remain necessary, particularly in program efficiency and adequacy. Key success factors include resources, communication, socio-economic-political conditions, followed by disposition, and supported by positive local community responses in relocation areas.
Kata Kunci : Evaluasi, Permukiman Kumuh dan Ilegal, Relokasi, Program Tuku Lemah Oleh Omah, Kampung Bugisan