TRADITIONAL ART PERFORMANCE AND TOURISM: STUDI TENTANG MOTIVASI PERGELARAN WAYANG ORANG DI MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA
'Aqiilah Jasmine Mubarok, Mubarika Dyah Fitri Nugraheni, S.Ant., M.A.
2025 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Wayang orang yang semula merupakan ritual kenegaraan Keraton, kini diposisikan sebagai atraksi wisata budaya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini mengungkap bagaimana Museum Sonobudoyo tidak hanya berperan sebagai pelestari koleksi benda bersejarah, tetapi juga sebagai ruang representasi budaya yang hidup melalui pergelaran seni. Wawancara dengan pihak Museum Sonobudoyo dan para seniman Sanggar Wiraga Apuletan dilakukan guna mendapatkan informasi terkait dinamika motivasi dan teknis pergelaran wayang orang di museum. Motivasi utama Museum Sonobudoyo menggelar seni wayang orang adalah menarik pengunjung dan memperkuat eksistensi seni tradisional melalui pertunjukan yang hidup. Wayang orang diposisikan sebagai atraksi wisata sekaligus bagian dari narasi koleksi museum. Di balik itu, para seniman memiliki pendapat mereka sendiri terkait tantangan dalam konsep dan elemen-elemen pendukung pertunjukan yang dinilai terbatas. Tantangan ini memengaruhi proses produksi seni sekaligus penyampaian makna dari wayang orang itu sendiri. Hasil penelitian mengungkap bahwa pergelaran wayang orang tidak hanya berperan sebagai pertunjukan yang dilestarikan, tetapi juga sarana edukasi, promosi budaya, dan menarik pengunjung. Museum Sonobudoyo memanfaatkan pergelaran ini sebagai strategi keberlanjutan institusi dan pemasukan melalui penjualan tiket dan eksposur media. Museum menjadi institusi produksi seni budaya yang dinamis, di mana pergelaran menjadi ruang negosiasi antara nilai-nilai tradisional, kepentingan seniman, serta tuntutan industri pariwisata.
Wayang orang, a traditional Javanese art performance has underwent a transformation in its meaning and purpose. It was originally a Keraton (palace) state ritual that is now often used as a cultural tourism attraction. This study explores how museum is not only an agent of historical collection preservation, but also a space for cultural representation through experiences such as art performances. Interviews with the staff of Sonobudoyo Museum and the art performers of Sanggar (studio) Wiraga Apuletan were conducted to obtain information regarding the dynamics of motivation and technical aspects of wayang orang performances in the museum. The main motivation of Sonobudoyo Museum in holding wayang orang performances is to attract repeated visitors and highlight the existence of traditional art through live performances. Wayang orang acts as a tourist attraction as well as a cultural representation of the museum’s collection. However, the artists involved in these performances converse regarding the challenges they face due to the stage concept and limited supporting elements. These challenges affect the art production process and the delivery of meaning. This research reveals that wayang orang performance in Sonobudoyo Museum is not only a form of art that is being preserved, rather a medium for education, promotion, and attraction. Sonobudoyo Museum benefits from this performance as it creates an income through tickets selling and media exposure. Museum becomes a dynamic and artistic cultural institution, where this performance creates a space for negotiating traditional values, artists’ needs, as well as demands from the touristic sector.
Keywords: Museum, Sonobudoyo Museum, Wayang Orang, Performance, Cultural Representation
Kata Kunci : Museum, Museum Sonobudoyo, Wayang Orang, Pergelaran, Representasi Budaya/Museum, Sonobudoyo Museum, Wayang Orang, Performance, Cultural Representation