Efisiensi Pemasaran Kubis di Kabupaten Magelang
Nadia Noviyanti, Prof. Dr. Jamhari, S.P., M.P.; Dr. Hani Perwitasari, S.P., M.Sc.
2025 | Tesis | S2 Ekonomi Pertanian
Penelitian
ini bertujuan untuk: 1) mengetahui saluran
pemasaran kubis di Kabupaten Magelang; 2) mengevaluasi tingkat efisiensi
pemasaran kubis berdasarkan biaya pemasaran, margin pemasaran, farmer’s
share, harga bersih ditingkat petani, dan kerugian pemasaran di Kabupaten
Magelang; 3) menganalisis struktur pasar pada setiap lembaga pemasaran kubis di
Kabupaten Magelang; dan 4) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi
efisiensi pemasaran kubis di Kabupaten Magelang. Lokasi penelitian ditentukan
secara sengaja dengan pertimbangan Kecamatan Ngablak memiliki produksi kubis
kedua tertinggi serta terdapat fasilitas pemasaran berupa Sub Terminal
Agribisnis. Responden
petani sebanyak 70 petani diperoleh dengan metode proportionate random sampling
di Desa Sumberejo dan Desa Jogoyasan. Sementara responden lembaga pemasaran
ditentukan dengan metode snowball sampling diperoleh 11
pedagang pengepul, 10 tengkulak, dan 24 pedagang pengecer. Metode yang digunakan yaitu analisis deskriptif
kuantitatif. Analisis deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi saluran
pemasaran yang terbentuk selama proses pemasaran kubis dari petani ke konsumen.
Analisis kuantitatif untuk menganalisis efisiensi pemasaran menggunakan
indikator biaya pemasaran, marjin pemasaran, farmer’s share, harga
bersih yang diterima petani, kerugian pemasaran, serta analisis struktur
pasar menggunakan Indeks Herfindahl Hirschman. Analisis regresi fractional
probit digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi
pemasaran kubis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa saluran pemasaran kubis
terdiri dari tiga saluran dengan lima pelaku pemasaran. Saluran pemasaran
kedua paling efisien dilihat dari biaya pemasaran, margin pemasaran, kerugian
pemasaran terendah yaitu sebesar Rp466,08/kg, Rp1.593,33/kg, Rp3,85/kg serta farmer’s
share dan harga bersih yang diterima petani tertinggi sebesar 53,14?n
Rp1.695,11/kg. Lembaga pemasaran yang mendominasi pasar yaitu tengkulak dengan
nilai HHI sebesar 0,20 dengan
struktur pasar monopoli. Selain itu, faktor pendidikan dan jenis pemasaran
berpengaruh positif, sedangkan jumlah perantara yang terlibat berpengaruh
negatif terhadap efisiensi pemasaran.
This study
aims to: 1) identify the marketing channels for cabbage in Magelang Regency; 2)
evaluate the level of cabbage marketing efficiency based on marketing costs,
marketing margins, farmers' share, net prices at the farmer level, and
marketing losses; 3) analyze the market structure of each cabbage marketing
institution; and 4) analyze the factors that influence cabbage marketing
efficiency. The research location was deliberately chosen because Ngablak
Subdistrict has the second-highest cabbage production and has marketing
facilities in the form of Sub-Terminal Agribisnis. Seventy farmer respondents
were obtained using proportionate random sampling in Sumberejo and Jogoyasan
Village. Meanwhile, marketing institution respondents were determined using
snowball sampling, resulting in 11 wholesalers, 10 middlemen, and 24 retailers.
The method used was quantitative descriptive analysis. Descriptive analysis was
used to identify the marketing channels formed during the marketing process of
cabbage from farmers to consumers. Quantitative analysis was used to analyze
marketing efficiency using indicators such as marketing costs, marketing
margins, farmers' share, net prices received by farmers, marketing losses, and
market structure analysis using the Herfindahl-Hirschman Index. Fractional
probit regression analysis was used to analyze the factors influencing the
efficiency of cabbage marketing. The research findings show that the cabbage
marketing channel consists of three channels with five marketing actors.
The second marketing channel is the most efficient in terms of marketing costs,
marketing margins, and the lowest marketing losses, amounting to IDR466.08/kg, IDR1,593.33/kg,
and IDR3.85/kg, respectively, as well as the highest farmer’s share and net
price received by farmers, at 53.14% and IDR1,695.11/kg, respectively. The
marketing institution dominating the market is the middleman with an HHI value
of 0.20, indicating a monopolistic market structure. Additionally, education
level and marketing type have a positive impact, while the number of
intermediaries involved harms marketing efficiency.
Kata Kunci : Efisiensi Pemasaran, Indeks Herfindahl, Pemasaran Kubis, Model Fractional Probit,