Theatre for Development Sebagai Medium Komunikasi Pembangunan (Studi Komunikasi Pembangunan yang Sensitif Gender Melalui Pertunjukan Rakyat Campursari Guyon Maton Cak Percil di Provinsi Jawa Timur)
Anik Mustika Rahayu, Prof. Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni, S.IP., M.Si.; Prof. Dr. Partini, SU.
2025 | Tesis | S2 Penyuluhan dan Komunikasi PembangunanTidak akan tercapai target pembangunan sampai tujuan tersebut dikomunikasikan sehingga untuk mengatasi hal itu diperlukan komunikasi pembangunan. Theatre for Development (TfD) merupakan pendekatan dalam komunikasi pembangunan yang digunakan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Di Jawa Timur, TfD dilakukan melalui pertunjukan rakyat campursari Guyon Maton Cak Percil sebagai medium komunikasi pembangunan. Pemerintah daerah di Jawa Timur bekerja sama dengan mereka untuk mensosialisasikan ragam isu pembangunan. Dalam komunikasi pembangunan melalui pertunjukan rakyat penting untuk memperhatikan sensitivitas gender guna mendorong representasi yang adil dan tidak stereotipikal dalam menyampaikan pesan pembangunan. Dengan menggunakan paradigma konstruktivis dan pendekatan kualitatif, penelitian ini ingin melihat komunikasi pembangunan yang sensitif gender dengan studi kasus campursari Guyon Maton Cak Percil ketika menyampaikan pesan pembangunan di Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan Theatre for Development dalam melihat fenomena pertunjukan drama sebagai medium komunikasi pembangunan di Jawa Timur. Hasilnya, Eksistensi pertunjukan rakyat Guyon Maton Cak Percil sebagai medium komunikasi pembangunan di Jawa Timur tidak lepas dari sejarah budaya pertunjukan rakyat secara oral untuk menyampaikan nilai dan norma di masyarakat. Pada penelitian ini juga menunjukan bahwa terjadi pergeseran prinsip TfD yang ada di Jawa Timur karena perubahan dan perkembangan akan kebutuhan medium komunikasi pembangunan. Sebagai bentuk dari Theatre for Development di Jawa Timur, Guyon Maton Cak Percil memiliki peran strategis untuk menyampaikan beberapa program komunikasi pembangunan tetapi sayangnya masih menggunakan narasi yang belum sensitif gender. Biaya yang mahal serta perkembangan media digital menjadikan beberapa kelemahan penggunaan medium ini. Meskipun demikian, dari penelitian ini menunjukan masih terdapat masa depan bagi Theatre for Development di Jawa Timur yang didukung oleh sistem ekonomi, sosio-kultural dan pemasaran.
Development targets will not be achieved unless the objectives are communicated, so development communication is needed to address this issue. Theatre for Development (TfD) is an approach to development communication used to encourage community participation in development. In East Java, TfD is carried out through the Guyon Maton Cak Percil campursari folk performance as a medium for development communication. The local government in East Java collaborates with them to socialize various development issues. In development communication through folk performances, it is important to consider gender sensitivity to promote fair and non-stereotypical representation in conveying development messages. Using a constructivist paradigm and qualitative approach, this study aims to examine gender-sensitive development communication through the case study of the Guyon Maton Cak Percil folk performance when conveying development messages in East Java. This study employs the Theatre for Development approach to examine the phenomenon of drama performances as a medium for development communication in East Java. The findings reveal that the existence of Guyon Maton Cak Percil folk performances as a medium for development communication in East Java is inseparable from the cultural history of oral folk performances used to convey values and norms in society. This study also shows that there has been a shift in the principles of TfD in East Java due to changes and developments in the needs of development communication mediums. As a form of Theatre for Development in East Java, Guyon Maton Cak Percil plays a strategic role in conveying several development communication programs, but unfortunately, it still uses narratives that are not gender-sensitive. High costs and the development of digital media have led to several weaknesses in the use of this medium. Nevertheless, this study indicates that there is still a future for Theatre for Development in East Java, supported by economic, socio-cultural, and marketing systems.
Kata Kunci : Komunikasi Pembangunan, Sensitivitas Gender, Guyon Maton Cak Percil, TfD