Laporkan Masalah

Analyzing Social Class in ‘The 8 Show’ (2024): A Semiotic Approach Using Roland Barthes’s Theory

Nurannisa Satyabrata, Dr. Ardian Indro Yuwono, S.I.P., M.A.

2025 | Skripsi | Ilmu Komunikasi

The 8 Show (2024) adalah serial Netflix yang menghadirkan gambaran distopia yang tidak biasa tentang kelas sosial melalui hierarki vertikal. Delapan peserta ditempatkan di lantai yang berbeda dalam sebuah gedung dengan tingkat kekayaan yang disesuaikan dengan lantainya. Meskipun awalnya tampak adil, serial ini kemudian mengungkap adanya hierarki kelas yang tetap, di mana kelas atas mempertahankan kekuasaan sementara kelas bawah menghadapi hambatan mobilitas. Serial ini merefleksikan isu-isu nyata seperti ketimpangan, konsentrasi kekuasaan, dan eksklusi sosial meskipun bersifat fiksi. Penelitian ini menganalisis bagaimana The 8 Show (2024) merepresentasikan kelas sosial melalui narasi dan tanda-tanda visual. Studi ini menelaah relasi kuasa, akses terhadap sumber daya, dan peluang hidup di antara karakter dengan menggunakan teori class, status, dan party dari Max Weber. Sementara itu, teori semiotika Roland Barthes membantu mengungkap bagaimana tanda dan mitos memperkuat ideologi bahwa kelas bersifat tetap dan tidak dapat diubah. Berdasarkan lima belas adegan terpilih, temuan menunjukkan bahwa kelas digambarkan bukan hanya sebagai perbedaan ekonomi, melainkan sebagai sistem struktural yang sulit diubah. Upaya-upaya perlawanan terhadap sistem secara berulang gagal, menjadikan ketimpangan seolah sesuatu yang wajar. Penggambaran kelas sosial dalam The 8 Show (2024) mencerminkan dinamika yang juga terjadi di masyarakat Indonesia, di mana kesenjangan memperdalam jurang sosial. Meskipun situasinya tidak sepenuhnya setara, hal ini menunjukkan bahwa ketimpangan adalah fenomena global yang turut dibentuk dan dipertahankan media dalam berbagai bentuk. Dengan mendekonstruksi elemen-elemen simbolik dalam The 8 Show (2024), penelitian ini mendorong kesadaran akan bagaimana ketimpangan dinormalisasi melalui narasi budaya.

The 8 Show (2024) is a Netflix series that presents an unusual dystopian depiction of social class through a vertical hierarchy. Eight participants are assigned to different floors of a building with corresponding wealth levels. Although it seems fair at first, the series soon reveals a fixed class hierarchy in which the upper class retains power while the lower class faces barriers to mobility. The series reflects real-world issues of inequality, power concentration, and social exclusion despite being fictional. This research analyzes how The 8 Show (2024) represents social class through its narrative and visual signs. The study examines power relations, access to resources, life chances among characters using Max Weber’s theory of class, status, and party. Meanwhile, Roland Barthes’s semiotic theory helps uncover how signs and myths reinforce ideologies that class is predetermined and unchangeable. Based on fifteen selected scenes, the findings suggest that class is portrayed beyond economic difference, but as a structural system resistant to change. Repeated attempts to resist the system fail, making inequality seem natural. The depiction of social class in The 8 Show (2024) mirrors the dynamics in Indonesian society where the disparity deepens social divides. Although the situation is not comparable, it highlights that inequality is a global phenomenon that the media helps shape and sustain in different forms. By deconstructing the symbolic elements in The 8 Show (2024), it promotes awareness of how inequality is normalized through cultural narratives.

Kata Kunci : social class, semiotic analysis, media representation, Max Weber’s stratification theory

  1. S1-2025-478296-abstract.pdf  
  2. S1-2025-478296-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-478296-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-478296-title.pdf