Hegemoni Budaya Mengeksploitasi Komunitas Budaya Berdaya Di Sendratari Ramayana Yogyakarta
GALAU D. MUHAMMAD, Dr. Ambar Teguh Sulistiyani, M.Si.
2024 | Skripsi | ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)
Pagelaran Sendratari Ramayana telah menjadi simbol rumah
besar kebudayaan yang mempertemukan dan membesarkan banyak seniman panggung di
Yogyakarta. Tantangan stabilitas dan pembatasan pagelaran telah menjadi risiko
normatif yang dihadapi Sendratari Ramayana dalam perjalanan panjangnya selama 63
tahun mempertahankan pagelaran reguler. Di balik romantisme budaya, potret
terkini justru menunjukkan tuntutan komersialisasi dan komodifikasi budaya di
Sendratari Ramayana semakin tak terbendung. Kelembagaan TWC sebagai pengelola
Sendratari Ramayana juga mengalami transformasi seiring pergeseran status BUMN
menjadi sub-holding PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Injourney). Penelitian
kualitatif ini menggunakan pendekatan studi kasus dalam penyelidikan
komprehensif hubungan hegemoni budaya terhadap aspek emansipasi pagelaran dan
distribusi kesejahteraan bagi komunitas budaya. Pengumpulan data dilakukan secara
bertahap mulai dari observasi, studi pustaka, hingga wawancara semi terstruktur
dan terbuka. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa dinamika hegemoni budaya
yang dilanggengkan melalui serangkaian kebijakan TWC telah membatasi emansipasi
pagelaran dan memusatkan distribusi kesejahteraan sehingga mengancam komunitas budaya
berdaya. Kebijakan TWC telah efektif menancapkan struktur relasi produksi
bercorak komersial melalui tiga kebijakan pokok, yakni pemindahan panggung Open
Air, diversifikasi grup tari, dan pemadatan durasi pagelaran. Sementara itu,
sentralisasi distribusi pendapatan juga terbentuk akibat kebijakan TWC
menerapkan pagu tarif kontrak yang berlaku tunggal bagi semua grup tari.
The
Sendratari Ramayana performance has become an important symbol in culture,
connecting and promoting many performing artists in Yogyakarta. However,
challenges related to stability and restrictions on performances pose normative
risks that Sendratari Ramayana must face in its 63-year effort to maintain
regular shows. Behind the apparent cultural beauty, the current situation
indicates that the push for commercialization and commodification of culture in
Sendratari Ramayana is increasingly unavoidable. The TWC institution, which
manages Sendratari Ramayana, has also undergone changes, aligning with its
transition to a sub-holding of PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Injourney). This
qualitative research employs a case study approach to comprehensively analyze the
relationship between cultural hegemony and the emancipation of performances as
well as the distribution of welfare for cultural communities. Data collection
was conducted in stages through observation, literature review, and
semi-structured and open interviews. The findings of this research indicate
that the dynamics of cultural hegemony, reinforced by TWC policies, have
restricted the emancipation of performances and centralized the distribution of
welfare, thereby threatening community empowerment in the cultural sphere. TWC
policies have effectively established a structure of commercial production
relations through three main policies: the relocation of the Open-Air stage,
diversification of dance groups, and the regulation of performance duration.
Furthermore, the centralization of income distribution has emerged as a result
of TWC’s policy to set a uniform contract rate applicable to all dance groups.
Kata Kunci : cultural exploitation, cultural exploration business, Sendratari Ramayana performance