RANDAI YOTUBE: CARA BARU MENIKMATI KESENIAN RANDAI
QUINTA ZAHRA AINURRAHMAH, Agus Indiyanto, S.Sos., M.Si.
2024 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Pertunjukan Randai
mulai ditinggalkan karena dirasa kurang dekat dan relevan dengan
masyarakat Minangkabau sebagai penontonnya. Munculnya fenomena panggung
digital, khususnya di platform Youtube, sebagai panggung baru pertunjukan Randai membuka peluang bagi randai agar kembali ditonton oleh masyarakatnya.
Adanya perubahan panggung ini membuat perilaku menonton pertunjukan Randai juga
berubah yang dapat bermuara pada berubahnya pemaknaan pertunjukan Randai oleh
masyarakat Minangkabau. Tulisan ini bertujuan untuk melihat bagaimana perubahan
pola menonton Randai dari langsung menjadi tidak langsung turut mengubah makna
pertunjukan Randai bagi masyarakatnya. Penelitian ini dilakukan pengamatan
terhadap perilaku penonton di Youtube, melakukan wawancara mendalam, analisis,
serta didukung dengan studi pustaka. Setelah melihat perilaku menonton penonton Randai di media sosial, ditemukan bahwa pola konsumsi informasi masyarakat
digital membuat pertunjukan Randai mengalami perubahan untuk beradaptasi dengan
panggung Youtube. Pertunjukan randai harus memangkas durasi, unsur, serta isi
dari pertunjukannya untuk menyesuaikan dengan pola konsumsi informasi
masyarakat digital. Usaha pertunjukan randai untuk menyesuaikan dengan panggung
digital ini membuat pertunjukan randai tidak lagi sebagai representasi
identitas kultural masyarakat Minangkabau, melainkan sebagai salah satu konten
hiburan di media digital.
The randai performance is gradually being abandoned as it is perceived to be less relevant and relatable to the Minangkabau community as its primary audience. The emergence of digital platforms, particularly YouTube, as a new stage for randai performances offers an opportunity for randai to once again be watched by its community. This shift in platform has also changed the way people watch randai, which may lead to a transformation in how the Minangkabau community interprets randai performances. This paper aims to examine how the shift in viewing patterns, from live performances to digital platforms, affects the meaning of randai for its community. The research was conducted by observing audience behavior on YouTube, conducting in-depth interviews, analyzing, and supported by a literature review. After analyzing the behavior of randai viewers on social media, it was found that the consumption patterns of digital audiences have prompted randai performances to adapt to YouTube. Randai performances have had to shorten their duration, reduce elements, and modify content to align with the information consumption habits of digital audiences. This effort to adapt to the digital stage has resulted in randai no longer representing the cultural identity of the Minangkabau community, but rather becoming just another form of entertainment content in digital media.
Kata Kunci : Adaptasi, makna, panggung digital, randai