Laporkan Masalah

KEBERMAKNAAN PROFESI PENGAJAR BAGI GURU KELAS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS: STUDI DI SEKOLAH LUAR BIASA NEGERI PATI

INTAN DYAH PUSPITA INDAH, Nurhadi, S.Sos., M.Si., Ph.D.

2024 | Skripsi | ILMU SOSIATRI

Intisari

Pendidikan sangatlah penting untuk semua orang dan semua orang berhak untuk mendapatkan pendidikan termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Pada tahun 2022, UNESCO memberikan laporan target keempat SDG’s yaitu pendidikan inklusif dan berkualitas sepanjang hayat pada tahun 2030 sulit untuk dicapai. Salah satu faktor yang menjadikan hambatan dalam tercapainya pendidikan inklusif yaitu kurangnya guru kelas anak berkebutuhan khusus di sekolah luar biasa (SLB) yang akan berdampak tidak akan terpenuhi hak mendapatkan pendidikan ABK secara maksimal dan akan berimbas pada menurunnya tingkat kualitas sumber daya manusia. Disatu sisi, beberapa orang bersedia menjadi guru kelas untuk ABK karena adanya rasa kepedulian mereka yang cukup tinggi terhadap ABK melalui pendidikan khusus. Para guru kelas di sekolah luar biasa juga memiliki pemaknaan profesi mereka sendiri terkait tugas dan tanggung jawab mereka yang tergolong cukup sulit dan menantang. Oleh karena itu, pendidikan khusus sangatlah penting, dimana dimulai dari adanya pengajar khusus untuk ABK sebagai pendamping mereka dalam keberlangsungan kegiatan pembelajaran serta pemaknaan hidup para pengajar khusus terhadap pekerjaannya sebagai guru kelas bagi anak berkebutuhan khusus.

Peneliti menggunakan teori kebermaknaan hidup dan teori motivasi kerja untuk mendapatkan tujuan dari penelitian ini. Pada teori kebermaknaan hidup menurut Frankl terdapat empat nilai yang digunakan untuk memaknai kehidupan seseorang nilai kreatif, nilai pengalaman, nilai sikap. Sedangkan pada teori motivasi kerja menurut Maslow terdapat 5 kebutuhan yang dapat memengaruhi motivasi kerja yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan untuk merasa memiliki, kebutuhan harga diri, dan kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. Kedua teori tersebut digunakan untuk mempermudah peneliti dalam menjawab rumusan masalah pada penelitian ini yaitu bagaimana kebermaknaan profesi pengajar bagi guru kelas anak berkebutuhan khusus di SLB Negeri Pati.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian pendekatan kualitatif fenomenologi dan menggunakan metode analisis tematik. Unit analisis pada penelitian ini yaitu menggunakan unit analisis di tingkat individu yaitu guru kelas anak berkebutuhan khusus di SLB Negeri Pati sebagai informan penelitian. Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini dengan observasi, wawancara secara mendalam, dan dokumentasi. Dan untuk menguji keabsahan data pada penelitian ini menggunakan triangulasi sumber.

Hasil yang didapatkan pada penelitian ini yaitu guru kelas ABK di SLB Negeri Pati memaknai profesinya dapat dikelompokkan menjadi 4 tema yaitu pengabdian diri, penerimaan diri, dukungan dari lingkungan sosial, dan manajemen diri. Dari keempat tema tersebut membuat guru kelas ABK dapat memaknai profesinya dan dapat meningkatkan kualitas diri mereka.

Abstract

Education is critically important for everyone, and everyone has the right to receive education, including children with special needs (CSN). In 2022, UNESCO reported that the fourth target of the SDGs, namely inclusive and quality education for lifelong learning by 2030, is challenging to achieve. One of the barriers to attaining inclusive education is the lack of special education teachers for children with special needs in special education (SPED), which will result in the rights of CSN to receive education not being fully met, thus affecting the quality of human resources. On the other hand, some individuals are willing to become special education teachers for CSN due to their high sense of care for these children through special education. Teachers in special education schools also have their interpretation of their profession, which involves tasks and responsibilities that are considered quite challenging. Therefore, special education is crucial, starting with the presence of special teachers for CSN to assist them in their learning activities, as well as the meaningful work for these teachers in their role as special education teachers.

The researcher utilized the theory of the meaning of life and the theory of work motivation to achieve the objectives of this study. According to Frankl’s theory of the meaning of life, four values are used to interpret one’s life: creative, experiential, and attitudinal values. Meanwhile, according to Maslow’s theory of work motivation, five needs can influence work motivation: physiological needs, safety needs, love and belonging needs, esteem needs, and self-actualization needs. These two theories were used to help the researcher address the research question, which is the meaningfulness of the teaching profession for special education teachers in SLB Negeri Pati.

This study utilized a qualitative phenomenological research approach and thematic analysis method. The unit of analysis in this study is at the individual level, namely special education teachers in SLB Negeri Pati as research informants. Data collection techniques in this study included observation, in-depth interviews, and documentation. Source triangulation was also used to test the validity of the data.

The results of this study indicated that special education teachers in SLB Negeri Pati interpreted their profession into four themes: self-dedication, self-acceptance, support from the social environment, and self-management. These four themes helped special education teachers find meaning in their profession and improve their personal quality.

Kata Kunci : Guru kelas ABK, ABK, SLB, Kebermaknaan, Motivasi Kerja

  1. S1-2024-455855-abstract.pdf  
  2. S1-2024-455855-bibliography.pdf  
  3. S1-2024-455855-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2024-455855-title.pdf