Ekspresi Kreativitas dan Kampanye Lingkungan Melalui Seni: Simbolisasi Pada Penokohan dan Lakon Wayang Resan "Situganda"
RIZKY PRAMUDYA KINASIH, Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, M.A.
2024 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Wayang Resan merupakan wayang yang diciptakan sebagai media kampanye lingkungan melalui bidang seni. Fokus utama gerakan ini adalah di wilayah Gunungkidul yang sering disebut sebagai daerah kekeringan dan didominasi batuan karst. Pergelaran Wayang Resan dilakukan di berbagai daerah di Gunungkidul dengan mengangkat isu lingkungan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk meneroka proses terbentuknya Wayang Resan, makna simbol tokoh-tokoh Wayang Resan, dan makna simbolik dari pergelarannya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi partisipatif dan wawancara terbuka. Observasi dilakukan dalam kurun waktu Oktober 2022-Juli 2023 dengan ikut serta dalam proses pembuatan dan pergelaran Wayang Resan. Wawancara terbuka dilakukan dengan narasumber anggota komunitas yang terlibat dalam pembuatan dan pergelarannya. Observasi dan wawancara dilakukan untuk mendapatkan pemahaman mendalam mengenai pesan dan simbol yang diintegrasikan pada tokoh maupun pergelarannya. Selain itu, studi pustaka melalui buku, jurnal, dan internet dilakukan untuk mencari dan memperkuat analisis terkait simbolisme dan teori pergelaran. Penelitian ini menggunakan teori simbolik F.W. Dillistone, teori Dramatisme Kenneth Burke, dan teori Cultural Performance John J. MacAloon.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Wayang Resan terbentuk secara kolektif dengan mengangkat kearifan lokal Gunungkidul. Tokoh-tokoh wayang diadaptasi dari kekayaan budaya dan alam Gunungkidul agar lebih mudah diterima oleh masyarakat. Interaksi yang terjadi selama pergelaran wayang baik dari antar tokoh wayang maupun dalang dengan penonton menjadi cara agar pesan yang dibawakan sampai kepada para penonton.
Wayang Resan is a shadow puppet created as a medium for environmental campaign through art. The main focus of this movement is in the Gunungkidul region, which is often referred to as a drought area and is dominated by karst rocks. Wayang Resan performances are held in various regions in Gunungkidul, raising different environmental issues. Therefore, this research aims to explore the formation process of Wayang Resan, the symbolic interpretation of Wayang Resan's characters, and the symbolic meaning of the Situganda puppet performance.
This research used a qualitative approach with the method of participatory observation and open interviews. Observation was carried out in the period October 2022-July 2023 by participating in the process of making and performing Wayang Resan. Open-ended interviews were done with community members who were involved in the making and performance. Observations and interviews were conducted to gain an in-depth understanding of the messages and symbols integrated in the characters and performances. In addition, literature studies through books, journals, and the internet were conducted to find and strengthen analyses related to symbolism and performance theory. This research uses F.W. Dillistone's symbolic theory, Kenneth Burke's Dramatism theory, and John J. MacAloon's Cultural Performance theory.
The results of this study show that Wayang Resan was formed collectively by highlighting the local wisdom of Gunungkidul. The puppet characters are adapted from the rich culture and nature of Gunungkidul in order to be more easily accepted by the the local society. The interaction that occurs during the puppet show, both between puppet characters and dalang with the audience, is a way to get the message delivered to the audience.
Kata Kunci : wayang resan, pergelaran, pentad analysis, kearifan lokal, dramatisme, wayang resan, performance, pentad analysis, local wisdom, dramatism