Perancangan Pusat Kebudayaan (Cultural Center) dengan Pendekatan Arsitektur Metafora di Kabupaten Sleman
NABIIL IKBAAR HERNANDA, Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M.Arch., Ph.D.
2024 | Skripsi | ARSITEKTUR
Sleman merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang kaya akan kebudayaan. Beragam kebudayaan, termasuk kesenian, yang ada di Kabupaten Sleman tidak lepas dari peradaban manusia yang pernah terjadi di sana. Peninggalan kebudayaan dari masa prasejarah, Hindu-Buddha, hingga masa sekarang merupakan aset berharga yang perlu dilestarikan. Ditambah lagi, era globalisasi memberikan dampak yang signifikan terhadap degradasi nilai-nilai kebudayaan lokal. Peran dari seniman, masyarakat, dan pemerintah sangat penting dalam upaya pelestarian kebudayaan. Upaya tersebut juga sebaiknya diimbangi dengan fasilitas yang mampu menjadi wadah bagi segala kegiatan kebudayaan. Sudah saatnya, Kabupaten Sleman memiliki pusat kebudayaan yang dapat menarik minat masyarakat secara umum dan seniman secara khusus.
Pendekatan arsitektur metafora digunakan pada pusat kebudayaan untuk mengungkapkan sebuah makna tersirat di balik cerita yang ingin disampaikan terkait kebudayaan setempat. Penggunaan metafora dapat membantu membangkitkan rasa kepemilikan dan keterlibatan masyarakat terhadap pusat kebudayaan. Ketika seseorang merasa terhubung dengan makna dan nilai yang terkandung dalam metafora, mereka cenderung lebih tertarik untuk berpartisipasi di dalamnya. Alam dan budaya di Kabupaten Sleman dapat dijadikan sumber inspirasi terbaik dalam proses transformasi metafora ke dalam desain.
Hubungan antara alam, budaya, dan manusia sangat terlihat pada tempat pusat kebudayaan ini berada, Desa Sambirejo. Seperti bersifat mutlak, ikatan tersebut akan selalu ada sampai kapan saja. Hanya saja, pola yang dihasilkan berbeda tergantung pada manusia sebagai pelaku utama. Secara signifikan, perubahan alam dan budaya dari waktu ke waktu tersebut menghasilkan sebuah narasi yang dapat menjadi pengingat atau pembelajaran bagi manusia ke depannya.
Sleman is one of the districts in the Special Region of Yogyakarta (DIY) Province which is rich in culture. The various cultures, including art, in Sleman Regency cannot be separated from the human civilization that occurred there. Cultural relics from prehistoric times, Hindu-Buddhist times, to the present are valuable assets that need to be preserved. In addition, the era of globalization has had a significant impact on the degradation of local cultural values. The role of artists, society and government is very important in efforts to preserve culture. These efforts should also be balanced with facilities that can become a forum for all cultural activities. It is time for Sleman Regency to have a cultural center that can attract the interest of the public in general and artists in particular.
A metaphorical architectural approach is used in cultural centers to reveal an implied meaning behind the story to be conveyed regarding local culture. The use of metaphors can help generate a sense of community ownership and involvement in the cultural center. When someone feels connected to the meaning and value contained in a metaphor, they tend to be more interested in participating in it. Nature and culture in Sleman Regency can be used as the best source of inspiration in the process of transforming metaphor into design.
The relationship between nature, culture and humans is very visible where this cultural center is located, Sambirejo Village. As it is absolute, this bond will always exist forever. However, the resulting patterns differ depending on humans as the main actors. Significantly, natural and cultural changes over time produce a narrative that can serve as a reminder or lesson for humans in the future.
Kata Kunci : Metafora, Alam, Budaya, Manusia