Studi Karakteristik Arsitektur dan Preferensi Pengunjung Target Pasar Pariwisata 4.0 terhadap Spot Foto Buatan di Ekowisata Desa Mangunan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
Nurul Izzah Moedia, Diananta Pramitasari, S.T., M.Eng., Ph.D.
2024 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur
Pariwisata
Indonesia berkembang pesat didorong oleh kemajuan teknologi. Era pariwisata 4.0
telah menciptakan pola baru dalam industri pariwisata Indonesia, dengan fokus
kepada destinasi yang instagramable dengan target pasar pengunjung
Generasi Z dan Milenial. Fenomena wisata instagramable dengan
keberagaman atraksi spot foto buatan ini menjadi pusat perhatian, namun
menyebabkan perdebatan terkait dampaknya terhadap kelestarian lingkungan dan
autentisitas destinasi. Sehingga perlu adanya studi yang mendalam terkait
atraksi yang sesuai dengan kebutuhan, keinginan dan harapan pengunjung. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggali karakteristik arsitektur atraksi
spot foto buatan berdasarkan kaidah arsitektur dan preferensi pengunjung yang nantinya
menjadi rekomendasi kepada pengelola destinasi sebagai alternatif pengembangan
destinasi.
Penelitian
dilakukan dengan pendekatan kuantitatif deskriptif, data dikumpulkan dengan
kuesioner yang dilakukan langsung pada destinasi Hutan Pinus Mangunan, Seribu
Batu Songgo Langit dan Bukit Panguk Kediwung. Metode pengumpulan data dengan pertimbangan
kriteria tertentu yang menargetkan pengunjung Generasi Z dan Generasi Milenial
yang memiliki pengalaman langsung dengan spot foto buatan pada destinasi. Diperoleh
jumlah responden sebanyak 133 orang dengan rincian 67 responden Hutan Pinus
Mangunan, 31 responden Seribu Batu Songgo Langit dan 35 responden Bukit Panguk
Kediwung. Kemudian dibandingkan dengan penilaian oleh peneliti berdasarkan
kaidah arsitektur.
Hasil
pada penelitian ini menunjukkan bahwa spot foto buatan pada ketiga destinasi
dikelompokkan berdasarkan sistem spasial, sistem tampilan dan sistem fisik yang
ternyata memiliki persamaan pada beberapa indikator. Jika dibandingkan dengan
karakteristik arsitektur pilihan pengunjung, spot foto buatan di Hutan Pinus
Mangunan 37,5% sesuai dengan pengunjung, Seribu Batu Songgo Langit 83,3?n
Bukit Panguk Kediwung 50%. Sedangkan jika dilihat berdasarkan kaidah
arsitekturnya spot foto buatan di Hutan Pinus Mangunan 25% sesuai, Seribu Batu
Songgo Langit 0?n Bukit Panguk Kediwung 17%. Dengan karakteristik arsitektur
seperti ini didapatkan persentase tingkat penilaian keberlanjutan atraksi berdasarkan
persepsi pengunjung pada Hutan Pinus Mangunan sebesar 2.87 yang masuk ke dalam
kategori “memuaskan”, destinasi Seribu Batu Songgo Langit dengan tingkat
kepuasan persepsi pengunjung sebesar 3.2 yaitu “memuaskan”, sedangkan pada
Bukit Panguk Kediwung mendapatkan tingkat kepuasan sebesar 3.13 “memuaskan”. Sedangkan
berdasarkan kajian arsitekturnya keberlanjutan atraksi pada Hutan Pinus
Mangunan sebesar 2.8 “memuaskan”, Seribu Batu Songgo Langit sebesar 2.6
“memuaskan” dan Bukit Panguk Kediwung 2.68 “memuaskan”.
Indonesian tourism is growing
rapidly driven by technological advances. The tourism 4.0 era has created a new
pattern in Indonesia's tourism industry, focusing on instagramable destinations
with a target market of Generation Z and Millennial visitors. The phenomenon of
instagramable tourism with a diversity of artificial photo spot attractions is
the center of attention, but causes debate regarding its impact on
environmental sustainability and destination authenticity. So it is necessary
to have an in-depth study related to attractions that are in accordance with
the needs, desires and expectations of visitors. Therefore, this research aims
to explore the architectural characteristics of artificial photo spot attractions
based on architectural principles and visitor preferences which will later
become recommendations to destination managers as an alternative destination
development.
The research was conducted with a
descriptive quantitative approach, the data was collected by questionnaires
conducted directly at the destinations of Mangunan Pine Forest, Seribu Batu
Songgo Langit and Bukit Panguk Kediwung. Data collection methods with
consideration of certain criteria targeting Generation Z and Millennial
Generation visitors who have direct experience with artificial photo spots in
destinations. The number of respondents was 133 people with details of 67
respondents of Mangunan Pine Forest, 31 respondents of Seribu Batu Songgo
Langit and 35 respondents of Bukit Panguk Kediwung. Then compared with the
assessment by researchers based on architectural principles.
The results of this study show that
the artificial photo spots in the three destinations are grouped based on the
spatial system, display system and physical system which turns out to have
similarities in several indicators. When compared with the architectural
characteristics of visitors' choice, artificial photo spots in Mangunan Pine
Forest 37.5% are in accordance with visitors, Seribu Batu Songgo Langit 83.3%
and Bukit Panguk Kediwung 50%. Meanwhile, when viewed based on architectural
rules, artificial photo spots in Mangunan Pine Forest are 25% suitable, Seribu
Batu Songgo Langit 0% and Bukit Panguk Kediwung 17%. With architectural
characteristics like this, the percentage level of assessment of the
sustainability of attractions based on visitor perceptions in Mangunan Pine
Forest is 2.87 which falls into the "satisfactory" category, the
destination of Seribu Batu Songgo Langit with a visitor perception satisfaction
level of 3.2 which is "satisfactory", while at Bukit Panguk Kediwung
getting a satisfaction level of 3.13 "satisfactory". Meanwhile, based
on the architectural study, the sustainability of attractions in Mangunan Pine
Forest is 2.8 "satisfactory", Seribu Batu Songgo Langit is 2.6
"satisfactory" and Bukit Panguk Kediwung is 2.68
"satisfactory".
Kata Kunci : spot foto buatan, karakteristik arsitektur, target pasar pariwisata 4.0, keberlanjutan destinasi