Laporkan Masalah

Pemanfaatan Metrik Spasial Untuk Analisis Multitemporal Lahan Terbangun di Kawasan Perkotaan Yogyakarta

KHUZNA MEDIATI, Dr. Iswari Nur Hidayati, S.Si., M.Sc.

2024 | Skripsi | S1 KARTOGRAFI DAN PENGINDERAAN JAUH

Suatu kota dapat mengalami perkembangan menjadi sebuah kawasan perkotaan. Perkembangan kota ini diidentifikasikan dari adanya fenomena perembetan fisik kota dari dalam kota menuju ke arah luar yang berupa bertambahnya lahan terbangun. Penambahan lahan terbangun terjadi karena adanya perubahan atau alih fungsi lahan yang awalnya adalah lahan alami seperti vegetasi pertanian, vegetasi non-pertanian, dan lahan terbuka menjadi lahan non-alami seperti lahan terbangun. Perubahan lahan alami menjadi non-alami beresiko mengganggu keseimbangan alami antara pemanfaatan lahan yang ditujukan untuk perkotaan dan non-perkotaan, sehingga menjadi penting untuk melakukan monitoring terhadap perubahan lahan yang terjadi.

Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY) adalah salah satu contoh hasil perkembangan dari Kota Yogyakarta.  Perkembangan KPY pun identik dengan bertambahnya lahan terbangun ke arah luar Kota Yogyakarta dan dapat dianalisis perkembangannya secara multitemporal. Penelitian ini menggunakan teknologi penginderaan jauh untuk (1) memetakan penutup lahan di KPY tahun 2009, 2014, dan 2019 beserta nilai uji akurasinya; (2) memetakan lahan terbangun di KPY tahun 2009, 2014, dan 2019 beserta arah pertumbuhannya; dan (3) menganalisis lahan terbangun di KPY tahun 2009, 2014, dan 2019 menggunakan metrik spasial.

Peta Penutup Lahan di KPY pada tahun 2009, 2014, dan 2019 memiliki nilai akurasi sebesar 85%, 88%, dan 90?rturut-turut. Ketiganya memiliki karakteristik yang mirip, yakni lahan terbangun mendominasi di pusat, vegetasi pertanian berada di pinggiran, vegetasi non-pertanian berasosiasi dengan tubuh air dan/atau permukiman dengan kepadatan rendah, serta lahan terbuka dan tubuh air yang memiliki luasan kecil dan tersebar. Peta Lahan Terbangun di KPY tahun 2009, 2014, dan 2019 menunjukkan adanya kenaikan luasan lahan terbangun. Ketiga peta tersebut memiliki arah pertumbuhan yang sama, yaitu dominan ke arah timur dan utara. Hasil spasial metrik terhadap ketiga peta lahan terbangun di KPY menunjukkan bahwa nilai Number of Patches dan Patch Density mengalami penurunan, sedangkan Largest Patch Index mengalami kenaikan yang mengindikasikan terjadinya agregasi lahan terbangun.

A city can undergo development into an urban area. This city’s development is identified by the phenomenon of physical expansion from within the city towards the outskirts, resulting in an increase in built-up land. The addition of built-up land occurs due to changes or land use conversions from natural areas such as agricultural vegetation, non-agricultural vegetation, and open land to non-natural areas like built-up land. The transformation of natural land into non-natural land poses a risk of disrupting the natural balance between land use intended for urban and non-urban purposes, making it essential to monitor land changes.

Yogyakarta Urban Area (KPY) serves as an example of the development resulting from Yogyakarta City. KPY’s development is closely associated with the expansion of built-up land towards the outskirts of Yogyakarta City, and its evolution can be analyzed using multi-temporal approaches. This study utilizes remote sensing technology to (1) map land cover in KPY for the years 2009, 2014, and 2019 along with accuracy assessment; (2) map built-up land in KPY for the same years and analyze its growth direction; and (3) assess built-up land in KPY using spatial metrics.

The Land Cover Maps in KPY for 2009, 2014, and 2019 achieved accuracy values of 85%, 88%, and 90%, respectively. All three maps exhibit similar characteristics: built-up land dominates the central areas, agricultural vegetation is found at the periphery, non-agricultural vegetation is associated with water bodies and/or low-density residential areas, and open land and water bodies are narrow and scattered. The Built-Up Land Maps for the same years indicate an increase in built-up land area. The growth direction in all three maps is predominantly towards the east and north. Spatial metric analysis of the built-up land maps reveals a decrease in the Number of Patches and Patch Density, while the Largest Patch Index shows an increase, indicating aggregation of built-up land.

Kata Kunci : lahan terbangun, Kawasan Perkotaan Yogyakarta, metrik spasial

  1. S1-2024-412055-abstract.pdf  
  2. S1-2024-412055-bibliography.pdf  
  3. S1-2024-412055-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2024-412055-title.pdf