Laporkan Masalah

Musik dan Proses Menjadi Perempuan: Ambiguitas dalam Memaknai Preferensi Musik di Kalangan Perempuan Muda Penggemar Taylor Swift dan K-pop

ANGELA CAESA HERAWATI, Desintha Dwi Asriani, S.Sos., M.A., Ph.D.

2024 | Skripsi | Sosiologi

Melalui kesetaraan gender, perempuan relatif telah memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam berbagai hal, tak terkecuali di dunia musik. Saat ini, banyak perempuan yang turut menjadi pelaku musik, juga sebagai penikmat musik. Perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk memilih preferensi genre musik mereka masing-masing. Perempuan juga dapat menikmati preferensi genre musik mereka melalui aktivitas-aktivitas sebagai penikmat musik. Namun, di Indonesia, struktur masyarakat patriarki yang masih kental turut mempengaruhi dinamika kehidupan perempuan muda dengan musik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perempuan muda dalam membentuk dan memaknai preferensi genre musik mereka. Dengan observasi dan wawancara mendalam, penelitian ini dapat memberikan data-data yang digunakan untuk mengeksplorasi pengalaman perempuan muda. Melalui teori Postfeminisme, Girl culture, dan Taste and Distinction, penelitian ini dapat mendiskusikan lebih jauh mengenai ambiguitas yang hadir dalam pengalaman perempuan muda dengan musik dan citra diri mereka.

Melalui proses pengolahan data, ditemukan bahwa proses pembentukan preferensi genre musik perempuan muda juga dipengaruhi oleh kondisi sosial, ekonomi, dan budaya mereka. Hal ini dapat dipahami bahwa selera perempuan muda terhadap genre musik Pop dan K-pop dapat menunjukkan posisi kelas sosial mereka, yaitu kelas menengah. Lebih jauh lagi, kelas sosial ini dapat ditunjukkan dari kemampuan perempuan muda untuk mengikuti berbagai aktivitas menikmati musik, memahami citra yang ditunjukkan oleh penyanyi favorit mereka, serta dapat menangkap makna yang terkandung dalam lirik lagu yang dibawakan oleh penyanyi favorit. Namun, proses memaknai yang dialami oleh perempuan muda justru masih terdapat bayang-bayang yang mengaburkan apakah keberdayaan perempuan untuk melakukan aktivitas-aktivitas untuk memaknai preferensi genre musik sebagai ekspresi atas ide pembebasan atau hanya sebagai praktik konsumsi oleh perempuan kelas menengah. Di samping mendapatkan pengalaman yang memberdayakan melalui musik, perempuan muda masih terus menikmati produk-produk dari kapitalis dengan dalih pemberdayaan. Hal ini menunjukkan ambiguitas yang hadir dalam proses menjadi perempuan melalui preferensi genre musik, yaitu sebagai ekspresi atas ide-ide pembebasan atau hanya sebagai tindakan konsumtif saja.

Through gender equality, women have relatively the same opportunities as men in various things, including in the music field. Currently, many women are also musicians, as well as music lovers. Women have the same opportunity to choose their music genre preferences. Women can also enjoy their music genre preferences through activities as music lovers. However, in Indonesia, the strong patriarchal structure of society also influences the dynamics of young women's lives with music. Therefore, this research aims to explore the dynamics of young women in forming and interpreting their music genre preferences. With in-depth observations and interviews, this research can provide data that is used to explore the experiences of young women. Through the theories of Post Feminism, Girl culture, and Taste and Distinction, this research can further discuss the ambiguity that exists in young women's experiences with music and their self-image.

Using the data processing procedure, it was found that the process of forming young women's musical genre preferences was also influenced by their social, economic, and cultural conditions. Understandably, young women's taste in Pop and K-pop music genres can indicate their social class position, namely the middle class. Furthermore, this social class can be demonstrated by the ability of young women to participate in various activities to enjoy music, understand the self-image shown by their favorite singer, and be able to grasp the meaning contained in the lyrics of songs sung by their favorite singer. However, there are still shadows in the meaning-making process experienced by young women that obscure whether women's empowerment to carry out activities to interpret musical genre preferences is an expression of liberation ideas or simply a consumption practice by middle-class women. Apart from gaining empowering experiences through music, young women continue to enjoy capitalist products under the pretext of empowerment. This shows the ambiguity that exists in the process of becoming a woman through preferences for musical genres, namely as an expression of liberating ideas or simply as a consumptive act.

Kata Kunci : Musik, Perempuan Muda, Citra Diri, Patriarki

  1. S1-2024-462917-abstract.pdf  
  2. S1-2024-462917-bibliography.pdf  
  3. S1-2024-462917-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2024-462917-title.pdf