Advokasi Digital pada Gerakan #Savepapuaforest dalam Mengawal Isu Deforestasi Hutan Papua
A. Ilham Rizqi Syaban, Dr. Phil. Gabriel Lele, S.I.P., M.Si.
2024 | Skripsi | ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)
Temuan Greenpeace tentang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua menuai kritik di Twitter. Netizen ramai menggunakan tagar #Savepapuaforest dan #SavehutanPapua untuk menunjukkan kritik dan kepedulian terhadap deforestasi yang terjadi. Meskipun advokasi digital telah menjadi metode baru dalam mengkampanyekan berbagai isu, termasuk melalui tagar #SavePapuaForest, efektivitas advokasi digital masih diperdebatkan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi dinamika dan efektivitas advokasi #SavePapuaForest dalam mengawal isu deforestasi hutan Papua.
Penelitian ini menggunakan analisis jaringan sosial (SNA) dan analisis isi (content analysis) untuk mengkaji dinamika dan efektivitas advokasi digital yang menggunakan #SavePapuaForest. Data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari Twitter yang mengandung tagar utama #SavePapuaForest dan tagar pendukung #SaveHutanPapua. Hasil analisis digunakan untuk memahami aktor, narasi yang dibawa aktor, dan dinamika advokasi yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiap tahapan advokasi digital yaitu reaching out, keeping up, dan action, masing-masing diisi oleh aktor dengan latar belakang berbeda. Narasi yang dibawa pun berbeda tiap tahapan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa meskipun gerakan sukses meningkatkan kesadaran publik dan menciptakan mobilisasi di media sosial, advokasi ini menghadapi beberapa hambatan sehingga belum berhasil mencapai tujuannya untuk mempengaruhi kebijakan terkait deforestasi di Papua secara signifikan.
Greenpeace's findings on forest and land fires in Papua have drawn criticism on Twitter. Netizens are actively using the hashtags #SavePapuaForest and #SaveHutanPapua to express their criticism and concern about the ongoing deforestation. Although digital advocacy has become a new method for campaigning on various issues, including through the hashtag #SavePapuaForest, the effectiveness of digital advocacy remains debated. This study aims to explore the dynamics and effectiveness of the #SavePapuaForest advocacy in addressing the issue of deforestation in Papua.
This research employs social network analysis (SNA) and content analysis to examine the dynamics and effectiveness of digital advocacy through #SavePapuaForest. The data used in this study were obtained from Twitter posts containing the main hashtag #SavePapuaForest and the supporting hashtag #SaveHutanPapua. The analysis aims to understand the actors, the narratives they convey, and the dynamics of the advocacy. The findings indicate that each phase of digital advocacy, namely reaching out, keeping up, and action, is occupied by actors from different backgrounds. The narratives conveyed also differ at each phase. The study also reveals that although the movement has successfully raised public awareness and created mobilization on social media, it has not yet significantly influenced policies related to deforestation in Papua.
Kata Kunci : Advokasi digital, Hutan Papua, Twitter, Analisis jejaring sosial, analisis isi