Analisi Modal Sosial dalam Pertunjukan Cabaret Show Raminten Penelitian tentang Jaringan Sosial Seni Pertunjukan
Muhammad Haqiqurrahman, Drs. Lambang Trijono, M.A., Ph.D.
2024 | Skripsi | Sosiologi
Penelitian ini meneliti bagaimana seorang pria yang memerankan peran wanita dalam pertunjukan dapat menjadi elemen unik atau justru menjadi subjek kontroversi dalam masyarakat Indonesia yang patriarkis. Fokus utama penelitian ini adalah Cabaret Show Raminten di Yogyakarta, sebuah pertunjukan kabaret yang sebagian besar pemainnya adalah Cross Dresser. Kabaret ini menggabungkan unsur hiburan dengan isu-isu gender dan kesetaraan. Penelitian ini menggunakan teori modal sosial untuk memahami bagaimana Cabaret Show Raminten tetap eksis dan diterima di Indonesia, di tengah budaya patriarkis yang dominan. Studi ini juga mengkaji peran dan fungsi modal sosial dalam komunitas Cabaret Show Raminten, serta dampaknya terhadap penerimaan publik terhadap pertunjukan mereka karena pada realitasnya respon negatif dari masyarakat juga masih diterima oleh Cabaret Show Raminten hingga saat ini. Penelitian ini juga dimaksudkan untuk melihat bagaimana proses negosiasi dan komunikasi yang Cabaret Raminten Show lakukan kepada para penontonya dalam upaya untuk menegaskan maksud dan tujuan mereka dalam berkarya. Penelitian ini menggunakan teori Modal Sosial yang dikemukakan oleh Pierre Bourdieu dan James Coleman dan juga menggunakan teori Perspektif Sosiologi Seni dari Pierre Bourdieu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan metodologi Fenomenologi. Temuan dalam penelitian ini melihat bahwa Cabaret Show Raminten sebagai sebuah industri kesenian bermaksud untuk memperkenalkan konsep pertunjukan yang ingin sedikit melampaui realitas sosial dan mendobrak stigma masyarakat yang menyatakan bahwa dalam dunia seni pertunjukan seorang lelaki tidak harus menampilkan penampilan yang maskulin dan begitu juga seorang wanita tidak harus menampilkan penampilan feminimnya dalam mementaskan sebuah kesenian karena pada dasarnya bagi mereka tidak ada batasan dalam berkesenian.
This study investigates how a man performing a female role in a show can become a unique element or a subject of controversy in the patriarchal society of Indonesia. The main focus of this research is the Cabaret Show Raminten in Yogyakarta, a cabaret performance predominantly featuring cross-dressers. This cabaret combines elements of entertainment with gender and equality issues. The study employs social capital theory to understand how Cabaret Show Raminten continues to exist and be accepted in Indonesia, despite the prevailing patriarchal culture. It also examines the role and function of social capital within the Cabaret Show Raminten community, as well as its impact on public acceptance of their performances, noting that negative societal responses are still encountered. This research further aims to explore the negotiation and communication processes undertaken by Cabaret Show Raminten to clarify their artistic intentions and objectives to the audience. The study uses the Social Capital theories of Pierre Bourdieu and James Coleman, along with the Sociological Perspective of Art theory by Pierre Bourdieu. Employing a qualitative research method with a phenomenological approach, the findings reveal that Cabaret Show Raminten, as an art industry, intends to introduce a performance concept that transcends social realities and challenges societal stigmas. They argue that in the performing arts, a man does not need to exhibit a masculine appearance, nor does a woman need to display a feminine appearance, as there are essentially no boundaries in artistic expression.
Kata Kunci : Cabaret Show Raminten, Cross Dresser, Budaya Patriarki, Modal Sosial