Laporkan Masalah

Rehoming, Konstruksi Memori dan Return Journey Diaspora dalam Novel The Namesake Karya Jhumpa Lahiri

Widatul Fajariyah, Achmad Munjid, M.A., Ph.D.

2024 | Tesis | S2 Sastra

Penelitian ini akan mengurai kompleksitas pengalaman diaspora dalam menetap dan meninggalkan negara, di mana kepindahannya mengacaukan definisi rumah, membelah memori, dan menciptakan identitas yang ambivalen, dalam novel The Namesake karya Jhumpa Lahiri. Dalam situasi yang serba baru ini, keempat tokoh diaspora India-Amerika dalam novel; Ashoke dan Ashima (diaspora generasi pertama) dan anak mereka, Gogol dan Sonia (diaspora generasi kedua), berada dalam ruang di mana budaya, memori, dan identitas yang lalu akan berinteraksi dengan budaya, memori, dan identitas di tempat baru. Generasi kedua yang lahir dan besar di Amerika, memiliki pengalaman diaspora yang kontras dibandingkan dengan generasi pertama yang merasakan secara langsung proses migrasi dan relokasi. Perbedaan ini melahirkan proses menegosiasikan rumah di tempat baru serta proyeksi yang berbeda terhadap rumah. Oleh karena itu, selanjutnya, sebagai kerangka berpikir, penelitian ini akan menggunakan konsep rumah yang dirumuskan oleh Benzi Zhang, dan didukung oleh teori memori kolektif oleh Maurice Halbwachs serta return journey oleh Mariane Hirsch sebagai pisau analisis.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ashoke, Gogol dan Sonia berhasil menegosiasikan Amerika sebagai rumah (rehoming), sedang Ashima, sebab keterikannya secara emosional dengan India, membuatnya gagal menemukan rumah di luar India (dehoming). Gogol dan Ashima, dua tokoh ini, rehoming dan dehoming dengan menerima salah satu identitas, dan menolak yang lain. Ashima yang mendefinisikan rumah sebagai kesatuan dengan tanah air, keluarga, budaya dan bahasa, menolak Amerika sebab, Amerika adalah budaya yang berbeda, lain dan asing. Kepindahannya ke Amerika membuat Ashima kehilangan rumah, sehingga kehidupannya di Amerika diliputi nostalgia dan keinginan untuk kembali ke tanah air. Sedang Gogol sebagai generasi muda, lebih ingin diidentifikasi sebagai orang Amerika, sehingga ia menolak hal-hal yang berkaitan dengan India seperti halnya, cara hidup, pertemanan, makanan, tradisi dan bahasa. Memori kolektif, oleh karena itu, memiliki peran penting dalam melihat diri dan dari kelompok mana para tokoh berasal. Memori yang terkuat dan paling berkesan akan membentuk identitas dan menentukan rehoming atau dehoming­-nya para tokoh dalam novel. Penolakan Gogol terhadap India yang melahirkan identitas yang terbelah dan krisis, menemui titik baliknya pada kematian sang ayah, Ashoke. Kepergian ayahnya mengguncang kesadaran dan menuntun Gogol untuk melihat ulang dan meredefinisi memori dan identitasnya. Return journey ini berhasil menghapus kesinisan dan penolakan Gogol terhadap India dan membuatnya memeluk dualitas identitas dalam dirinya sebagai anak diaspora India-Amerika.

This study will examine the complexity of diaspora's experience of settling and leaving the country, where the movement disrupts the definition of home, splits memory, and creates an ambivalent identity, in Jhumpa Lahiri's The Namesake. In this new situation, the four Indian-American diaspora characters in the novel; Ashoke and Ashima (first generation diaspora) and their children, Gogol and Sonia (second generation diaspora), are in a space where the culture, memory, and identity of the past will interact with the culture, memory, and identity of the new place. The second generation, who were born and raised in America, have contrasting diasporic experiences compared to the first generation who experienced the process of migration and relocation firsthand. This difference creates a process of negotiating home in a new place as well as a different projection of home. Therefore, henceforth, as a framework, this research will use the concept of home formulated by Benzi Zhang, and supported by the theory of collective memory by Maurice Halbwachs and return journey by Mariane Hirsch as an analytical tool.

The results show that Ashoke, Gogol and Sonia successfully negotiate America as home (rehoming), while Ashima, due to her emotional attachment to India, fails to find a home outside India (dehoming). Gogol and Ashima, these two characters, rehoming and dehoming by accepting one identity, and rejecting the other. Ashima, who defines home as being united with homeland, family, culture and language, rejects America because it is a different, other and alien culture. Her move to America makes Ashima lose her home, thus her life in America is filled with nostalgia and a desire to return to her homeland. Gogol, on the other hand, as a younger generation, wanted to be identified as an American, so he rejected things related to India such as the way of life, friendships, food, traditions and language. Collective memory, therefore, plays an important role in how characters see themselves and the groups they belong to. The strongest and most memorable memories will shape the identity and determine the rehoming or dehoming of the characters in the novel. Gogol's rejection of India, which gave rise to a divided and fractured identity, finds its turning point in the death of his father, Ashoke. His father's absence shatters his consciousness and leads Gogol to revisit and redefine his memory and identity. This return journey successfully erased Gogol's cynicism and rejection of India and made him embrace the duality of identity within himself as a child of the Indian-American diaspora.

Kata Kunci : Rehoming, memori kolektif, return journey, Jhumpa Lahiri.

  1. S2-2024-501637-abstract.pdf  
  2. S2-2024-501637-bibliography.pdf  
  3. S2-2024-501637-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2024-501637-title.pdf