Gerakan Sosial Baru melalui Aktivisme Seniman Yogyakarta: Jejaring dan Peran Seniman Yogyakarta dalam Merespon Konflik Agraria Warga Wadas
Risa Purnamasari, Dr. Lambang Trijono, M.A.
2023 | Skripsi | Sosiologi
Gerakan sosial Wadas Melawan yaitu gerakan penolakan Warga Wadas bersama dengan berbagai elemen masyarakat sipil yang menolak rencana pertambangan batuan andesit di Desa Wadas yang digunakan dalam pembangunan Bendungan Bener. Penolakan tersebut dilatarbelakangi adanya kekhawatiran akan kerusakan lingkungan, hilangnya mata pencaharian, dan rusaknya relasi sosial. Eskalasi konflik juga terjadi karena adanya faktor cacat birokrasi yang merugikan warga. Menyikapi konflik tersebut, seniman turut andil dalam mendukung perlawanan Warga Wadas dengan menghadirkan gerakan-gerakan alternatif sebagai counter hegemony kelas penguasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika gerakan sosial perlawanan Wadas serta secara spesifik mengkaji proses dan peran kelompok seniman dalam gerakan gerakan kolektif Wadas Melawan. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, penelitian ini secara lebih khusus juga menggunakan perspektif jaringan partisipan atau aktor. Sebagai pisau analisa, digunakan kerangka teori gerakan sosial, kekuasaan negara dan hegemoni, serta jaringan aktor. Hasilnya, kasus Wadas membuktikan adanya hubungan supersturktur negara dengan masyarakat sipil dimana masyarakat sipil tidak seluruhnya mendapatkan keuntungan atas pembangunan yang diinisiasi negara. Gerakan Wadas Melawan menjadi bentuk gerakan sosial baru yang dapat diidentifikasi dari beberapa karakteristik yaitu ideologi atau tujuan, taktik pengorganisasian, struktur, partisipan aktor, dan area gerakan. Gerakan Wadas Melawan oleh kelompok seniman menggunakan hegemoni tandingan yang bersifat persuasif dan menampilkan fungsi “organisasional dan konektif”. Kontribusinya dalam gerakan Wadas Melawan antara lain amplifikasi isu dengan sarana pameran karya dan kopi Wadas , mendorong agitasi politik melalui media visual di ruang publik untuk meningkatkan gerakan sosial yang lebih massif, penyampaian pesan propaganda melalui karya musik, serta melalui partisipasi langsung dalam penanganan traumatis anak-anak Wadas paska represi.
The Wadas Resistance Social Movement is a movement of rejection by the residents of Wadas along with various elements of civil society against the plan for andesite mining in the village of Wadas, which is used in the construction of the Bener Dam. The rejection is motivated by concerns about environmental damage, loss of livelihoods, and the breakdown of social relations. The escalation of conflict also occurs due to bureaucratic defects that harm the residents. In response to the conflict, artists play a role in supporting the Wadas Resistance by introducing alternative movements as a counter-hegemony to the ruling class. This study aims to examine the dynamics of the Wadas resistance social movement, specifically exploring the processes and roles of artist groups in the collective Wadas Resistance movement. Using a qualitative method with a case study approach, this research specifically employs a participant or actor network perspective. The analytical framework includes social movement theory, state power and hegemony, as well as actor networks. The results demonstrate the relationship between the state's superstructure and civil society, where civil society does not entirely benefit from state-initiated development. The Wadas Resistance movement emerges as a new form of social movement with identifiable characteristics such as ideology or goals, organizational tactics, structure, participant actors, and movement areas. The Wadas Resistance movement by artist groups utilizes a persuasive counter-hegemony and exhibits "organizational and connective" functions. Their contributions include amplifying issues through art exhibitions and Wadas coffee, promoting political agitation through visual media in public spaces to enhance a more massive social movement, delivering propaganda messages through music, and directly participating in the handling of traumatized Wadas children post-repression.
Kata Kunci : Counter Hegemony, Gerakan Sosial, Jaringan, Seniman, Wadas Melawan.