Perencanaan Kawasan Candi Plaosan dengan Konsep Konservasi dan Pariwisata Cagar Budaya
Muhammad Syamsir Alam, Prof. Ir. Bakti Setiawan, M.A., Ph.D.
2024 | Skripsi | PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
Kawasan Candi Plaosan merupakan kawasan cagar budaya pada daerah sub-urban (pinggir kota) dan termasuk ke dalam Kawasan Stratagis Pariwisata Nasional Candi Prambanan yang ditetapkan Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 2011. Nilai sejarah dari kawasan dipadukan dengan kondisi visual serta jaraknya sangat dekat dengan Kompleks Candi Prambanan menjadi kombinasi daya tarik bagi wisatawan maupun peneliti. Perkembangan area terbangun yang pesat dapat mempengaruhi kondisi sosial dan lingkungan pada kawasan tersebut maupun kawasan disekitarnya. Dalam upaya mengambil nilai manfaat dari aktivitas wisata dengan tetap melakukan pelestarian kawasan, maka perlu ada regulasi dengan menggunakan pendekatan yang komprehensif terhadap ruang dan aktivitas wisata di dalam kawasan cagar budaya. Artinya perlu adanya perencanaan Kawasan Candi Plaosan agar penataan ruang dengan berbagai kegiatan di dalamnya maupun di luar kawasan dapat terintegrasi dengan baik. Selain itu dengan adanya perencanaan yang baik dapat meminimalisir degradasi terhadap nilai citra kawasan yang terjadi di dalam kawasan. Perencanaan Kawasan Candi Plaosan menggunakan metode Soft System Methodology (SSM) yang menghasilkan master plan, rencana detail keruangan, dan rencana aktivitas bagi penduduk dan masyarakat yang ada di dalam perencanaan kawasan tersebut. Perspektif konservasi, pariwisata cagar budaya, serta parkir dan sirkulasi digunakan sebagai pembangun konsep utama perencanaan. Konsep utama dihasilkan dengan mengkombinasikan antara teori perspektif, preseden Wat Arun dan Desa Penglipuran, serta elemen rancang kota. Perpaduan preseden dan elemen perencanaan tersebut menghasilkan konsep ideal berupa komponen perencanaan yaitu pusat kegiatan wisata, tata guna lahan, tata bangunan, fasilitas utiltias, sirkulasi dan parkir, dan kelembagaan.
Plaosan Temple area is a cultural-heritage tourism area in
sub-urban not far from Prambanan Temple and is included in the National
Strategic Tourism Destination, which was established by the Indonesian
Government in 2011. The
historical values of the area are combined with visual landscape conditions
with the need for a combination of tourist attraction and research. The
development of the built area that increase affect the nature and social of the
region as well as the surrounding area. In pursuit of the benefits of tourism
activities while preserving the area, it is necessary to have regulations using
a comprehensive approach within the cultural heritage site. This means that
there is a need for Masterplan for the Plaosan Temple area so that spatial organization
with various activities inside and outside the area can be well-integrated.
Furthermore, with comprehensive planning, it can minimize degradation to the
image value of the area that occurs within the site.The planning of the Plaosan
Temple area using the Soft System Methodology (SSM), resulting in a master
plan, detailed spatial plans, and activity plans for the residents and the
community within the planning area. Conservation perspective, cultural heritage
tourism, and parking and circulation, are used as the main concepts in
planning. The main concept is generated by combining theoretical perspectives,
the precedents of Wat Arun and the Penglipuran Village, as well as urban design
elements. The integration of precedents and planning elements produces an ideal
concept consisting of planning components such as the center of tourist
activities, land use, building management, facilities and utilities,
circulation and parking, and institutional plan.
Kata Kunci : Pariwisata,Cagar Budaya,Candi Plaosan,Komprehensif,Konservasi