Dinamika Spasial Perubahan Penggunaan Lahan dan Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Tahun 2013-2020 di Sekitar Pembangunan Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS) Kabupaten Bantul
UTIA KAFAFA, Dr. Rika Harini, M.P.
2021 | Skripsi | S1 GEOGRAFI LINGKUNGANJalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) yang melintasi Kabupaten Bantul yaitu sepanjang 16,65 km mencakup tiga wilayah administrasi kapanewon yaitu Kapanewon Srandakan, Sanden, dan Kretek. Proses pembangunan JJLS akan menimbulkan berbagai macam dampak terhadap kehidupan masyarakat yang berada di sekitar infrastruktur tersebut. Tujuan penelitian ini yaitu: (1) mengidentifikasi dinamika spasial perubahan penggunaan lahan di sekitar pembangunan Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS) serta (2) menganalisis dinamika spasial kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar pembangunan Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS) Kabupaten Bantul tahun 2013-2020. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode survey. Lokasi penelitian berada di Kalurahan Poncosari, Gadingsari, Srigading, Tirtohargo, dan Parangtritis. Teknik penentuan anggota sampel menggunakan teknik purposive sampling yaitu penduduk yang tinggal dalam radius 1 km dari badan jalan di sebelah utara JJLS. Teknik pengumpulan data dibagi menjadi dua garis besar yaitu teknik pengumpulan data sekunder dan teknik pengumpulan data primer. Analisis data dilakukan melalui analisis map overlay dan deskriptif kuantitatif. Data-data disajikan dalam bentuk tabel, diagram, dan peta. Hasil penelitian menunjukkan pembangunan JJLS di Kabupaten Bantul kurang begitu mempengaruhi perubahan penggunaan lahan yang ada di masing-masing kalurahan. Hal tersebut dilihat dari lokasi perubahan penggunaan lahan yang letaknya jauh dari badan jalan dan tidak membentuk pola khusus seperti pola perubahan lahan pertanian menjadi non-pertanian. Penduduk di sekitar JJLS mayoritas bekerja sebagai petani dan termasuk golongan masyarakat berpendapatan rendah atau kurang dari Rp1.500.000,00 per bulan. Dilihat dari kondisi sosial, tidak banyak terjadi konflik terkait pembangunan. Adapun sisi positif dari adanya pembangunan yaitu interaksi sosial antar masyarakat menjadi lebih intensif.
The National Southern Cross Road also known as Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS) crosses Bantul Regency has 16.65 km long. It covers three sub-district administrative areas, namely Srandakan, Sanden, and Kretek. The development of JJLS will have various kinds of impacts on the community around the road infrastructure. This study wants to know how the impact of the development that saw from: (1) the spatial dynamics of land-use change and (2) the socio-economic conditions in 2013-2020. The type of this research is a quantitative study using a survey method. The research located in Poncosari, Gadingsari, Srigading, Tirtohargo, and Parangtritis Village. The technique of determining sample members using a purposive sampling technique. Data analysis was performed through map overlay and quantitative descriptive analysis. Overall, the development of the road does not affect changes in land use nearby. This can be seen from the location of land-use change which is far from the road body and tends to be random. Based on the results of the research, majority of residents around JJLS work as farmers and belong to low-income groups or less than IDR 1,500,000,00 per month. The community believes if the road fully connected, it will be potentially open a lot of new jobs for local-residents and it will develop into new activity centers. The community explained that there were not many conflicts related to development because JJLS was built on the Sultan Ground. After the existence of JJLS, social interactions between communities became more intensive and positive.
Kata Kunci : pembangunan, Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS), penggunaan lahan, sosial ekonomi.