Dilema Subjek Berhadapan Dengan Tatanan Sosial Dalam Novel Men Coblong Karya Oka Rusmini
NUR HIDAYATI, Dr. Aprinus Salam, M. Hum.
2021 | Tesis | MAGISTER SASTRANovel Men Coblong (MC) berkisah tentang seorang perempuan yang menyandang beberapa identitas. Ia ditempatkan sebagai ibu rumah tangga, sastrawan, wartawan, perempuan, dan warga lokal Bali. Berlandaskan hal tersebut maka, penelitian akan berfokus pada dua permasalahan: (1) melihat apakah tokoh Men Coblong setuju dengan tatanan sosial atau malah menolaknya, (2) meneliti strategi yang dilakukan subjek untuk terus bertahan dalam police melalui perbedaan identitasnya. Pertanyaan tentang apakah tokoh utama dalam novel tersebut dapat memengaruhi dominasi tatanan sosial atau justru sebaliknya akan terjawab melalui kedua identifikasi masalah. Selanjutnya, guna mendapatkan jawaban atas kedua permasalahan tersebut, penulis menggunakan kerangka berpikir Jacques Ranciere. Penulis menggunakan disensus, yaitu seputar pola berpikir subjek yang "berpura-pura" menyetujui police untuk terus bertahan dengan lingkungannya meski pada dasarnya ia tidak menyetujui tatanan sosial tersebut. Lalu, penulis juga menggunakan gagasan tentang disagreement atau penolakan subjek terhadap tatanan sosial yang dilakukan secara gamblang. Setelah itu, pemikiran tentang migrasi yang berarti perubahan subjek, kelas, atau ideologi tokoh dalam karya sastra sebagai hasil dari interaksi antara dirinya dengan lingkungan sekitar juga digunakan dalam penelitian ini. Kemudian, digunakan pula kerangka berpikir tentang subjektivitas yakni cara tokoh menyikapi setiap peristiwa maupun kondisi (dalam MC dimanfaatkan untuk menghadapi tatanan sosial agar bisa beradaptasi dan bertahan). Metode yang digunakan ialah membaca fakta-fakta pada objek yang penulis kaji, mengklasifikasikan data sesuai dengan topik, menganalisis, dan menjadikannya sebagai kutipan. Sumber data yang dijadikan sebagai objek penelitian tersebut adalah novel MC karya Oka Rusmini yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada bulan Mei, tahun 2019. Masyarakat dalam novel tersebut ditempatkan dalam tataran sosial bergantung pada hierarki. Ada kelompok yang semakin mendominasi yakni kelas atas. Selain itu, ada juga kelompok yang kian termarjinalkan yaitu kelas bawah. Kenyataan demikian dapat diamati dalam MC mulai dari tatanan sosial tertinggi seperti pemerintahan sampai dengan lingkup rumah tangga sekali pun. Pada beberapa sisi; sebagai seorang ibu, istri, perempuan, dan warga lokal Bali, tokoh Men Coblong "dibungkam". Kemudian, di sisi lain, tokoh ditampilkan sebagai sosok yang ingin "meluluhkan" hierarki sosial melalui liputannya sebagai wartawan atau pun tulisan fiksinya sebagai seorang sastrawan. Upaya-upaya "peluluhan" tersebut juga dianalisis untuk melihat apakah tokoh utama berhasil menaklukkan police atau justru ia turut larut di dalamnya. Meski demikian, hasil penelitian membuktikan bahwa adanya tokoh tersebut merupakan perwujudan dari subjek demos karena ia selalu berupaya melakukan verifikasi diri serta bernegosiasi dengan tatanan sosial yang ada.
The novel Men Coblong (MC) tells of a woman who bears multiple identities. She was stationed as a housewife, a literature, a journalist, a woman, and a native of Bali. Based on this, research will then focus on two issues; (1) see if the figure Men Coblong agrees with the social setting or rather reject it, (2) analyses the subject's strategy to continue in police through differences in identity. The question of whether the main character in the novel could influence the dominance of a social setting or the opposite would be answered by both identification of the problem. The writer, in turn, to provide an answer to both issues, used the framework of Jacques Ranciere. The writer uses the census, which surrounds the subject's "ostentatious" thought patterns in favor of police to continue to maintain their environment even though it basically disapproves of the social setting. Next, the writer also used the idea of concepts or rejection of the subject to a graphic social setting. Thereafter, the thought of migration in terms of subject, class, or ideological changes in persons in literature as a result of personal interaction with the environment is also used in the study. Then, too, the framework of the subjectivity of the person's approach to every event and condition (in MC is used to face a social order to adapt and survive). The method used was to read facts on objects that the writer was reviewing, classifying data by subject, analyzing, and making them quotations. The source of data used as an object of research is Oka Rusmini's novel published by Gramedia Pustaka Utama in May, 2019. The communities in the novel are housed in social order dependent on hierarchy. The upper classes are increasingly dominant. In addition, there is a growing marginalization of the lower classes. Such realities can be observed in the MC from the highest social order of government to the domestic sphere. On some sides; as a Balinese mother, wife, woman, and local, the Men Coblong figure was "silenced". Later, on the other hand, the figure is presented as a person wishing to "exploit" the social hierarchy by his stories as a journalist or by his fiction as a man of letters. Therefore, these "ulster" efforts are also analyzed to see if the main figure is successful in conquering police or is absorbed into it. Nevertheless, studies have proved that the existence of the personage is a manifestation of the subject demos because of his constant efforts to verify himself and negotiate with the social order.
Kata Kunci : Tatanan Sosial, Disensus, Disagreement, Subjek Demos, Migrasi