Sekolah Luar Biasa (SLB)/G-AB di Gunungkidul dengan Penekanan pada Pembelajaran Berbasis Bermain yang Interaktif
MAZAYA IZAZI EL SUFFA, Diananta Pramitasari, ST. M.Eng. Ph.D.
2021 | Skripsi | S1 ARSITEKTURSemua anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing individunya, termasuk Anak Dengan Kedisabilitasan (ADK). Anak Dengan Kedisabilitasan (ADK) memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak normal pada biasanya. Karakteristik anak-anak tersebut harus diwadahi sesuai dengan kebutuhan mereka sehingga proses pembelajaran dapat terjadi dengan maksimal dan lancar. Salah satu permasalahan yang ada pada penyandang disabilitas di Gunungkidul adalah kurangnya interaksi sosial anak- anak penyandang disabilitas dengan dunia luar mereka. Selain itu, mudah merasa bosan dengan pembelajaran formal di sekolah dan cenderung menjadi malas pergi ke sekolah adalah masalah lain yang ada pada anak penyandang disabilitas di Gunungkidul. Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak penyandang disabilitas adalah dengan cara membuat fasilitas yang dapat mewadahi kegiatan belajar-mengajar mereka, yaitu dengan fasilitas Sekolah Luar Biasa (SLB). Pengertian dari Sekolah Luar Biasa (SLB), sekolah khusus bagi penyandang kecacatan tertentu (Sunardi, Kurikulum Pendidikan Luar Biasa di Indonesia dari Masa ke Masa, 2010) adalah sebuah institusi pendidikan yang menyelenggarakan Pendidikan Luar Biasa (PLB). Sekolah yang akan dirancang harus dapat menyelesaikan permasalahan yang ada pada penyandang disabilitas di Gunungkidul. Perancangan yang dilakukan untuk Sekolah Luar Biasa (SLB) tersebut adalah dengan menggunakan penekanan pembelajaran berbasis bermain yang interaktif. Desain dari Sekolah Luar Biasa (SLB) ini menekankan pada solusi-solusi bagaimana sebuah ruang-ruang spasial dapat mendukung proses pembelajaran berbasis bermain yang interaktif. Sehingga masalah sosial pada anak penyandang disabilitas yang ada di Gunungkidul dapat terselesaikan dengan baik melalui sebuah rancangan arsitektur.
All children have the right to get a proper education. All children have the right to get an education according to the needs of each individual, including children with disabilities. Children with disabilities have different characteristics from normal children, those characteristics should be accommodated according to their needs so that the learning process can be optimal. One of the problems that exist for persons with disabilities in Gunungkidul is the lack of social interaction of children with disabilities with the other. In addition, it is easy to feel bored with formal learning at school and tend to be lazy going to school is another problem for children with disabilities in Gunungkidul. One of the ways that can be done to improve the quality of education for children with disabilities is by making facilities that can accommodate their teaching and learning activities, namely with special education school facilities (SLB). The definition of Special Education School (SLB), a special school for people with certain disabilities (Sunardi, Curriculum for Special Education in Indonesia from Time to Time, 2010) is an educational institution that organizes Special Education (PLB). The school designed must be able to solve problems that exist for people with disabilities in Gunungkidul. The design carried out for the Special Education School (SLB) is to use interactive learning through play emphasis. The design of the Special Education School (SLB) emphasizes solutions for how a spatial space can support interactive learning through the play process. So that children with disabilities' social problems in Gunungkidul can be solved properly through an architectural design.
Kata Kunci : SLB, belajar-bermain, interaksi sosial/Special Education School (SLB), learn-play, social