Efisiensi Pemasaran Bawang Putih Kecamatan Tawangmangu di Kabupaten Karanganyar
VIRGEENA LAILY NUVI, Any Suryantini, Zaura Fadhliani
2021 | Skripsi | S1 EKONOMI PERTANIAN DAN AGRIBISNISBawang putih merupakan komoditas yang berperan penting sebagai penyedap masakan maupun sebagai bahan obat herbal. Proporsi bawang putih lokal relatif kecil dibanding dengan volume impor bawang putih dalam pemasaran bawang putih di dalam negeri, namun pemasaran bawang putih lokal penting untuk diteliti karena memiliki karakteristik yang berbeda dengan pemasaran bawang putih impor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) hubungan panjang saluran pemasaran dan margin pemasaran, 2) hubungan panjang saluran pemasaran dan farmer's share, 3) hubungan panjang saluran pemasaran dan efisiensi pemasaran, 4) indeks monopoli masing-masing lembaga pemasaran, dan 5) faktor-faktor yang mempengaruhi marjin pemasaran bawang putih Kecamatan Tawangmangu di Kabupaten Karanganyar. Lokasi penelitian ditentukan dengan metode purposive sampling sedangkan pengambilan sampel petani menggunakan metode proportional random sampling dan diperoleh 61 petani dari Desa Kalisoro dan Desa Blumbang. Pengambilan sampel pedagang menggunakan metode snowball sampling melibatkan 8 pedagang dari Kabupaten Karanganyar. Metode analisis yang digunakan untuk menjawab tujuan pertama, kedua, dan ketiga adalah analisis kuantitatif dan analisis korelasi; tujuan keempat dijawab menggunakan analisis kuantitatif; sedangkan menjawab tujuan kelima adalah analisis kuantitatif yakni analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin panjang saluran pemasaran maka nilai marjin pemasaran semakin besar, nilai farmer's share semakin kecil, dan saluran semakin tidak efisien. Setiap lembaga pemasaran bawang putih memiliki nilai indeks monopoli (MPI) yang berbeda-beda, nilai MPI tertinggi pada pedagang pengepul saluran pemasaran IV. Faktor-faktor yang meningkatkan marjin pemasaran adalah jumlah lembaga pemasaran dan jarak petani dengan lembaga pemasaran terakhir.
Garlic is a commodity that plays an important role as a food seasoning and as an ingredient in herbal medicine. The proportion of local garlic is relatively small compared to the imported garlic in domestic marketing, but the marketing of local garlic is important to study because it has different characteristics from the marketing of imported garlic. This research aims to determine 1) the relationship between the length of the marketing channel and marketing margins, 2) the relationship between the length of the marketing channel and farmer's share, 3) the relationship between the length of the marketing channel and marketing efficiency, 4) the monopoly index of each marketing agency, and 5) the factors that affect the marketing margin of garlic in Tawangmangu District in Karanganyar Regency. The research location was determined by purposive sampling method, while the sample of farmers was using proportional random sampling method and obtained 61 farmers from Kalisoro Village and Blumbang Village. The sampling of traders using the snowball sampling method involved 8 traders from Karanganyar Regency. The analytical methods used to answer the first, second, and third objectives are quantitative analysis and correlation analysis; the fourth objective is answered using quantitative analysis; while in answering the fifth objective used quantitative analysis, namely multiple linear regression analysis. The results showed that the longer the marketing channel, the larger the marketing margin, the smaller the farmer's share, and the less efficient the channel. Each garlic marketing agency has a different monopoly index (MPI) value, the highest MPI value is for collecting traders in marketing channel IV. The factors that increase the marketing margin are the number of marketing agencies and the distance between farmers and the last marketing agency.
Kata Kunci : Efisiensi Pemasaran, Marjin Pemasaran, Farmer's Share, Indeks Monopoli