Aspek-Aspek Pembelajaran Secara Lisan Kelompok Karawitan Anak Tirta Kencana Di Mangir Kidul Bantul Yogyakarta
GANANG RESTU A, Dr. Wisma Nugraha Ch. R., M.Hum;Prof. Dr. Timbul Haryono, M.Se
2021 | Tesis | MAGISTER PENGKAJIAN SENI PERTUNJUKAN DAN SENI RUPATesis ini berupaya menjelaskan analisis proses pembelajaran karawitan anak secara lisan dalam kelompok Karawitan Anak Tirta Kencana. Aspek melodis-instrumental dalam perannya memicu ingatan pembelajaran karawitan secara lisan juga turut diteliti. Pembelajaran jika dilihat sebagai sebuah peristiwa komunikasi, maka konstruksi teori tentang pembelajaran dapat berangkat dari model-model teori komunikasi lisan. Albert B. Lord mengemukakan bahwa ada tiga tahap dalam proses pembelajaran dalam tradisi lisan, yaitu: (1) peserta belajar bersinggungan dan menyimak materi, lalu menyimpannya dalam memori; (2) imitasi dan asimilasi terhadap materi; dan (3) improvisasi. Selain itu, untuk mempertajam analisis pembelajaran anak terutama dikalangan masyarakat Jawa Ki Hadjar Dewantara memaparkan tentang konsep Tri N yaitu Niteni, Niroake, Nambahake. Guna untuk mempermudah penghapalan materi teori dari Lehmann tentang pemotongan materi menjadi beberapa kelompok berukuran pendek juga ditambahkan serta dilengkapi dengan konsep penyematan rasa antarpemain yang ditulis oleh Sarah Weiss. Teori tersebut dioperasionalkan lewat pendekatan etnografi. Dari sanalah diketahui proses pembelajaran secara lisan yang diterapkan kelompok karawitan anak Tirta Kencana dimulai dengan mengenalkan materi gending bentuk kreasi, guna merangsang kecintaan terhadap karawitan serta kreativitas pemain. Secara tidak langsung, hal ini menjadikan stimulan pembentukan karakter dan ciri khas permainan serta daya eksplorasi mereka masing-masing sehingga metode ini selalu dipertahankan kelompok karawitan anak Tirta Kencana hingga saat ini. Pola melodi gending ditransferkan secara lisan lalu digumamkan secara bersama-sama agar peserta belajar (pemain) bisa meresapi keriangan karakter gending guna merangsang imajinasi anak. Pemenggalan sluku-sluku bathok tidak serta merta langsung membuat anak hafal melainkan membutuhkan beberapa kali pengulangan. Untuk penyematan rasa, anak-anak dibiarkan memilih instrumennya sendiri agar dapat meresapi suara, bentuk dan cara bermainnya.
This Thesis seeks to explain the analysis of the oral karawitan learning process in the Tirta Kencana children's karawitan group. Aspects other than melodic-instrumental in its role in triggering the memory of karawitan learning in the children's musical group Tirta Kencana orally were also studied. If learning is seen as a communication event, the theoretical construction of learning can depart from models of oral communication theory. Albert B. Lord stated that there are three stages in the learning process in the oral tradition, namely: (1) the learning participants intersect and listen to the material, then store it in memory; (2) imitation and assimilation of the material; and (3) improvisation. In addition, to sharpen the analysis of children's learning, especially among the Javanese, Ki Hadjar Dewantara explained the Tri N concept, namely Niteni, Niroake, Nambahake. In order to make memorizing the material easier the theory from Lehmann about cutting the material into several short groups was also added and complemented by the concept of embedding feelings between players written by Sarah Weiss. The theory is operationalized through an ethnographic approach. From there it is known that the oral learning process applied by the Tirta Kencana children's karawitan group begins with introducing creative music, in order to stimulate the love of musicals and the creativity of the players, which indirectly stimulates the formation of characters and characteristics of the game and their exploration power so that this method has always been maintained by the Tirta Kencana children's musical group until now. The melody patterns of the gending are transferred orally and then muttered together so that the learning participants (players) can absorb the joy of the musical characters in order to stimulate the children's imagination. The beheading of sluku-sluku bathok does not immediately make the child memorize it but requires several repetitions. To embed taste, children are left to choose their own instruments so that they can immerse themselves in the sound, shape and way of playing.
Kata Kunci : Karawitan, Anak, Pembelajaran Lisan