Laporkan Masalah

KRITIK ARAFAT NUR TERHADAP TATANAN SIMBOLIK DAN SUBJEK ACEH DALAM NOVEL BURUNG TERBANG DI KELAM MALAM

FITRI TIARA MERDIKA, Dr. Aprinus Salam, M.Hum

2021 | Tesis | MAGISTER SASTRA

Dalam penciptaan karya sastra, baik secara sadar atau tidak sadar pengarang akan selalu menyisipkan ideologinya. Penyisipan ideologi tersebut dapat dilihat dari kritik-kritik yang disampaikan oleh pengarang. Karya sastra merupakan medium bagi pengarang untuk menyampaikan sebuah kritik terhadap realitas yang terjadi, baik itu kritik agama, sosial, budaya, politik dan lain-lain. Namun yang menjadi menarik ketika pengarang mencoba untuk membuka realitas yang tidak disadari, membuka kebusukan suatu sistem kekuasaan yang pada akhirnya akan menjadi sinisme dan tunduk pada sebuah tatanan ideologi. Dalam penelitian ini, novel Burung Terbang di Kelam Malam karya Arafat Nur dipilih unutuk membuktikan fantasi ideologis tersebut. Permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana tatanan simbolik masyarakat Aceh dalam novel Burung Terbang di Kelam Malam? (2) Bagaimana kritik Arafat Nur terhadap subjek (masyarakat Aceh) dalam novel Burung Terbang di Kelam Malam? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, teori yang digunakan adalah subjek autentik dan fantasi ideologis yang diperkenalkan oleh Slavoj Zizek dan dianalisis dengan metodologi deskriptif analitis. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa, pertama tatanan simbolik (Syariat Islam yang dijadikan sebagai identitas Aceh) gagal membentuk subjek yang radikal. Meskipun subjek telah melepaskan tatanan simbolik yang membelenggunya selama ini, ia tetap kembali pada tatanan simbolik yang baru. Subjek yang masih berada di kekuasaan the Big Other tidak akan pernah lepas dari tatanan yang menundukkan mereka. Subjek tidak akan mampu mencapai the Real, karena mereka tidak dapat membahasakan the Real tersebut sehingga subjek berhasrat untuk memenuhi panggilan Che Vuoi?, secara tidak sadar subjek melakukan fantasi ideologis. Kedua, subjek memfantasikan ideologi Islamisme (syariat Islam) yang menghasratkan pada pencapaian spiritualitas justru mengarahkannya pada kapitalisme. Tidak hanya subjek (tokoh dalam novel). Arafat Nur sebagai pengarang juga terjebak dalam kapitalisme sehingga upayanya untuk menuju yang radikal berakhir dengan kegagalan.

In the creation of literary works, either consciously or unconsciously the author will always insert his ideology. The insertion of the ideology can be seen from the criticisms delivered by the author. Literary works are a medium for the author to convey a critique of the reality that occurs, be it religious, social, cultural, political and other criticisms. But that becomes interesting when the author tries to open up an unconscious reality, opening up the decay of a system of power that will eventually become cynicism and submit to an ideological order. In this study, Arafat Nur's novel Burung Terbang di Kelam Malam was chosen to prove this ideological fantasy. The problem contained in this study is (1) What is the symbolic order of acehnese people in the novel Burung Terbang di Kelam Malam? (2) What is Arafat Nur's criticism of the subject (Acehnese) in the novel Burung Terbang di Kelam Malam? To answer that question, the theory used was an authentic subject and ideological fantasy introduced by Slavoj Zizek and analyzed with descriptive analytical methodology. The results of this study prove that, firstly, the symbolic order (Islamic Sharia as the identity of Aceh) failed to form a radical subject. Although the subject has relinquished the symbolic order that shackled him all along, he remains returning to the new symbolic order. The subjects who are still in power of the Big Other will never escape from the order that subjected them. The subject will not be able to reach the Real, because they cannot discuss it so the subject desires to fulfill Che Vuoi's call?, unconsciously the subject commits ideological fantasies. Second, the subject of fantasizing the ideology of Islamism (Islamic sharia) that desires the achievement of spirituality instead leads it to capitalism. Not just the subject (the character in the novel). Arafat Nur as an author was also caught up in capitalism so his attempts to go radical ended in failure.

Kata Kunci : Fantasi ideologis, subjektifitas, tatanan simbolik, Burung Terbang di Kelama Malam, Arafat Nur

  1. S2-2021-434516-abstract.pdf  
  2. S2-2021-434516-bibliography.pdf  
  3. S2-2021-434516-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2021-434516-title.pdf