Lokalitas dan Keberlanjutan : Bisnis Slow Fashion di Yogyakarta
AZZAHRA SAFFIRA P, Dr. Falikul Isbah G.Dsoc.,MA
2020 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIIndustri fashion saat ini didominasi oleh produk-produk garmen yang diproduksi secara massal oleh mata rantai produksi dan pemasaran global (global supply chain) atau disebut fast fashion. Dominasi model bisnis ini menuai kritik dari sisi sosial dan ekonomi politik, antara lain mengabaikan kondisi pekerja dan tidak memperhatikan kelestarian lingkungan. Skripsi ini memotret model bisnis fashion yang berupaya menjadi anti-tesis atas model bisnis tersebut, yakni model bisnis yang menjalankan konsep slow fashion. Slow fashion adalah konsep filosofis yang berpusat pada nilai-nilai keberlanjutan, seperti kondisi kerja yang adil dan tidak membahayakan lingkungan dalam proses produksi dan pemasaran bisnis. Penelitian ini menganalisis praktik bisnis slow fashion yang dijalankan oleh tiga pelaku di Yogyakarta. Data dalam riset ini dihasilkan melalui serangkaian observasi, wawancara, dokumentasi, studi literasi baik secara online maupun offline pada tiga toko slow fashion yang berbasis di Yogyakarta. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan dua kerangka teori: lokalitas dan keberlanjutan serta ekonomi digital. Penelitian ini menemukan bahwa nilai-nilai keberlanjutan dan lokalitas dibuktikan ketiga toko slow fashion dari penggunaan bahan-bahan alami dalam tiap tahapan produksi serta memprioritaskan sumber daya seperti tenaga kerja dari komunitas lokal yang secara geografis dekat dengan konsumsinya. Sementara itu, peran teknologi dalam pengembangan bisnis slow fashion dapat dilihat dari melalui pemanfaatan media sosial Instagram oleh ketiga toko slow fashion terkait. Hal ini dibuktikan juga dari upaya yang telah mereka lakukan melalui Instagram masing-masing seperti menerima penjualan online serta memberikan transparansi kepada calon konsumennya.
The current fashion industry is dominated by garment products that are mass-produced by the global supply chain or called fast fashion. The domination of this business model has drawn criticism from the social and political economy aspects, such as unfair working conditions and disregarding environmental sustainability. This thesis captures a fashion business model that seeks to be an anti-tesis of this business model, which is a business model that applies the concept of slow fashion. Slow fashion is based on a philosophical ideal that centres on sustainability values, such as good working conditions and reducing environmental destruction in the production and marketing processes. This study analyzes the slow fashion business practices run by three actors in Yogyakarta. The data in this research were generated through a series of observations, interviews, documentation, literacy studies both online and offline at three slow fashion clothing lines based in Yogyakarta. The collected data is then analyzed using two theoretical frameworks: locality and sustainability, and also digital economy. This research found that the sustainability and locality values are evidenced by the three slow fashion shops such as the using of natural ingredients in each stage of production and prioritize resources such as labor from local communities that close to their consumption. Meanwhile, the role of technology in slow fashion business development can be seen from the use of Instagram social media by the three related slow fashion shops. This is also evidenced by the efforts they have made through their own Instagram, such as accepting online sales and providing transparency to potential customers.
Kata Kunci : Slow fashion , Lokalitas, Keberlanjutan, Yogyakarta