Membongkar Konstruksi Kuasa atas Tubuh Perempuan dalam Film Sang Penari : Sebuah Tinjauan Analisa Kritis
Donna Zerlina Purwaningsih, Prof. Dr. Heru Nugroho
2020 | Skripsi | S1 SOSIOLOGITubuh merupakan arena pertarungan kekuasaan khususnya tubuh perempuan. Pemaknaan atas tubuh perempuan kebanyakan dilakukan oleh pihak diluar si pemilik tubuh. Padahal nyatanya, perempuan memiliki kuasa dan memaknai tubuhnya sendiri. Maka disini film Sang Penari hadir untuk mengisahkan tentang perjalanan panjang tubuh perempuan bernama Srintil yang terombang-ambing ke dalam tiga arena besar mulai dari tahap tradisional, politik nasional, sampai tahap kegilaan. Sayangnya, proses transformasi dari novel ke film ini menghilangkan beberapa bagian juga tokoh agar tetap fokus pada inti cerita tentang percintaan sehingga tidak jarang membuat Srintil terlihat lemah. Terkait dengan perjalanan tubuhnya, tubuh perempuan disini lantas bukan ditempatkan pada posisi obyek melainkan dapat menjadi subyek. Tubuh Srintil yang begitu dipuja oleh para lelaki menjadikannya sebagai posisi sentral dalam penghidupan Dukuh Paruk. Selanjutnya, tubuhnya menjadi sarana beraspirasi dalam politik nasional ’65 dalam naungan partai komunis. Walau mencapai titik kegilaan pada akhirnya, itu tidak berarti Srintil kalah melainkan sebaliknya dimana ia menari merayakan kebebasannya. Maka melalui studi ini diharapkan perempuan tetap dapat speak-up dalam keterbatasannya. Studi ini menggunakan metode analisa wacana kritis yang dilakukan melalui percakapan yang ditampilkan dalam film Sang Penari.
The body is an arena for power struggles, especially women's bodies. Most of the meaning of a woman's body is done by parties outside the owner of the body. Whereas in fact, women have the power and interpret their own bodies. So here the film Sang Penari is here to tell the story of the long journey of a woman's body named Srintil who is drifting into three big arenas ranging from the traditional stage, national politics, to the stage of madness. Unfortunately, the transformation process from novel to film eliminates some parts of the characters to stay focused on the core story of love, so it often makes Srintil look weak. Related to the journey of her body, the woman's body here is not placed in the position of the object but can become the subject. Srintil's body, which is so revered by men, makes her a central position in the life of Dukuh Paruk. Furthermore, her body became a vehicle for aspirations in national politics '65 under the auspices of the communist party. Even though it reaches the point of madness in the end, it doesn't mean Srintil loses but rather that she dances to celebrate her freedom. So, through this study, it is hoped that women can still speak up within their limitations. This study uses a critical discourse analysis method which is carried out through conversations that are featured in the film Sang Penari.
Kata Kunci : Ronggeng, Seksualitas, Tubuh, Srintil, Makna