Laporkan Masalah

KEPATUHAN INDONESIA TERHADAP REZIM WARISAN BUDAYA TAK BENDA DITINJAU DARI SUDUT PANDANG RASIONALIS (STUDI KASUS: BATIK INDONESIA PASCA PENGAKUAN UNESCO 2009)

SHOFI FATIHATUN, Dr. Siti Mutiah Setiawati; Dr. Nanang Pamuji Mugasejati

2020 | Tesis | MAGISTER ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab kepatuhan Indonesia terhadap rezim warisan budaya tak benda, yaitu dalam kerangka The Convention on the Intangible Cultural Heritage Safeguard UNESCO pasca pengakuan UNESCO 2009 dari sudut pandang rasionalis. Pendekatan rasionalis dipilih untuk mengetahui alasan rasional dalam kerangka untung ruginya. Peneliti juga menggunakan analisis self/other untuk membantu menganalisis untung-rugi yang didapatkan ketika Indonesia harus patuh terhadap rezim dengan faktor liyan yang membayanginya. Hasilnya, kepatuhan Indonesia terhadap rezim warisan budaya tak benda (Konvensi ICH UNESCO) merupakan sebuah tindakan rasional untuk mendukung kepentingan Indonesia akan perlindungan warisan budaya batik, yaitu untuk: 1) mendukung akses terhadap perlindungan warisan budaya batik Indonesia terjamin secara legal; 2) sarana menonjolkan identitas budaya batik Indonesia, sehingga memiliki perbedaan dengan liyan (others)-nya dan significant other-nya; 3) sarana mempertahankan pengakuan batik sebagai identitas nasional Indonesia. Dengan demikian, manfaat yang didapat dari kepatuhan terhadap rezim internasional lebih besar untuk didapatkan daripada tidak mematuhinya.

This research is aimed to know the cause of Indonesias compliance to intangible cultural heritage regime, which is The Convention on the Intangible Cultural Heritage Safeguard UNESCO, in rationalist view. Rationalist approach is chosen to know rational reasons in its cost-benefit analysis. Self/other concept is applied to help us analyze the cost-benefit consideration more deeply behind the shadows of their perception to significant other. As a result, the compliance of Indonesia to intangible cultural heritage regime is rational measure to support its cultural heritage protection interest, especially for: 1) promoting access to the protection of Indonesian batik cultural heritage legally; 2) means to highlight the cultural identity of Indonesian batik, thus the difference between the self and others or significant others is visible; 3) to maintain batik recognition as a national identity of Indonesia. Therefore, the benefits of compliance are bigger than not to comply to the regime.

Kata Kunci : warisan budaya tak benda, warisan budaya, kepatuhan, rezim internasional, intangible cultural heritage, cultural heritage, regime compliance, international regime

  1. S2-2020-419019-abstract.pdf  
  2. S2-2020-419019-bibliography.pdf  
  3. S2-2020-419019-tableofcontents.pdf  
  4. S2-2020-419019-title.pdf