Gegar Budaya Kerja yang Dialami oleh Anggota MK Consultants ketika Bekerja di PT Korindo Heavy Industry Tangerang dalam Beradaptasi dengan Budaya Kerja Lokal
NAOMI DYAH PRATIWI, Ummul Hasanah, S.S., M.A
2020 | Tugas Akhir | D3 BAHASA KOREAGegar budaya merupakan suatu fenomena sosial dalam kehidupan masyarakat yang menarik untuk dikaji karena gegar budaya adalah masalah yang sering kali dihadapi setiap orang yang berada di daerah asing. Tugas Akhir ini berjudul Gegar Budaya Kerja yang Dialami oleh Warga Negara Korea Ketika Bekerja di PT Korindo Heavy Industry Tangerang dalam Beradaptasi dengan Budaya Kerja Lokal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk gegar budaya yang dialami para anggota MK Consultants ketika bekerja di PT Korindo Heavy Industry Tangerang dan cara mereka dapat mengatasi perbedaan budaya yang terjadi di lingkungan kerja. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yaitu dengan cara observasi berupa wawancara langsung kepada para narasumber, lalu mengolah data yang ada dalam bentuk deskriptif, yaitu penjabaran secara jelas, teratur, detail, dan teliti mengenai pembahasan yang menjadi tema penelitian. Kemudian akan ditarik kesimpulan sesuai rumusan masalah yang ada pada penelitian ini. Objek penelitian ini adalah anggota MK Consultants yang pernah atau sedang bekerja di PT Korindo Heavy Industry Tangerang. MK Consultants merupakan sebuah tim konsultan dibawah naungan MK Company, yaitu sebuah perusahaan konstruksi di Korea Selatan yang bergerak dalam bidang pengembangan teknologi. Hasil penelitian pada Tugas Akhir ini berupa bentuk-bentuk dan cara mengatasi gegar budaya yang telah dialami oleh empat responden dari MK Consultants. Dari hasil yang diperoleh, terdapat bentuk dan jenis gegar budaya yang dialami responden, antara lain adanya perbedaan bahasa, perbedaan pola pikir, manajemen waktu para pekerja lokal yang tidak dapat memaksimalkan waktu sebaik mungkin, banyaknya waktu ibadah di Indonesia, minimnya etos kerja para pekerja lokal, dan tidak adanya budaya hweshik. Gegar budaya ini dapat diatasi para responden dengan cara memotivasi diri, mempelajari dan memahami budaya Indonesia beserta bahasanya, menanamkan rasa tanggung jawab pada diri sendiri sehingga tidak lagi merasa stres dengan adanya perbedaan budaya yang dialami, dan saling bersikap terbuka kepada para pekerja lokal.
Culture shock is a social phenomenon in people's lives that is interesting to study because it is a problem that is often faced by those living in a foreign area. The Final Project is entitled "Work Culture Shock Experienced by Korean Citizens While Working in PT Korindo Heavy Industry Tangerang in Adapting to Local Work Culture." The purpose of this Final Project is to identify the various kinds of culture shock experienced by Korean citizens while working in PT Korindo Heavy Industry Tangerang and how they were able to overcome the cultural differences that happened in the work area. This research is conducted using descriptive qualitative methods, which is involves observation in the form of interviews with the informant, the obtained data is then laid out in descriptive form, which is a clear, regular, detailed, and thorough description of the discussion that is the authors research theme. Afterwards, the conclusions will be drawn according to the formulation of the problems in this research. The object of this research is MK Consultant members who have worked or are currently working in PT Korindo Heavy Industry Tangerang. MK Consultants is a team of consultants in MK Company, which is a construction company in South Korea that is engaged in technology development. The result of this research are the types and ways to overcome cultural shock that has been experienced by four respondents from MK Consultants. From the results obtained, there are forms and types of culture shock experienced by respondents, including language differences, mindset differences, time management of local workers who cannot maximize the best possible time, the amount of worship time in Indonesia, the lack of work ethic of local workers, and the absence of hweshik culture. The respondents were able to overcome this culture shock by motivating themselves, try to learn and understand Indonesian culture and language, instilling a sense of responsibility in themselves so that they no longer feel stressed by the cultural differences they experience, and being open with the local workers.
Kata Kunci : gegar budaya, warga negara Korea, budaya kerja Indonesia