Model Pembelajaran dan Tata Pamer Koleksi Museum Bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Museum Sonobudoyo
AGUSTINUS WISNU K, Dr. Daud Aris Tanudirdjo, M.A.
2020 | Tesis | MAGISTER ARKEOLOGISebagai salah satu intitusi pendidikan non formal dan sumber ilmu pengetahuan, sudah seharusnya museum dapat dijangkau oleh semua pembelajar, termasuk anak berkebutuhan khusus. Pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus di museum dapat disesuaikan dengan kurikulum pendidikan khusus termasuk kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam setiap jenjang pendidikan. Museum Sonobudoyo, sebagai museum umum yang ternama dan unggul koleksi-nya, tentu perlu menyediakan pembelajaran dan tata pamer yang sesuai dengan kebutuhan anak berkebutuhan khusus. Namun, hingga kini belum pernah dikaji, bagaimana sebaiknya model pembelajaran dan tata pamer yang diselenggarakan untuk anak berkebutuhan khusus di museum ini? Penelitian ini berusaha untuk menjawab masalah tersebut dengan mengkaji pembelajaran anak kebutuhan khusus sebagaimana ditentukan dalam kurikulum nasional di Indonesia serta potensi koleksi dan pameran di Museum Sonobudoyo yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Penelitian ini terutama difokuskan untuk anak berkebutuhan khusus fisik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kontruktivis yang dilakukan dengan sistem terpadu dengan berbaur dengan pengunjung lain adalah yang paling tepat di Museum Sonobudoyo. Dalam hal tata pamernya, museum ini dapat memanfaatkan rancangan storyline yang ada dengan menambahkan dan sedikit mengubah beberapa media dan perangkat pameran yang ada agar sesuai dengan kebutuhan anak berkebutuhan khusus fisik (tuna rungu, tuna netra, dan tuna daksa). Pertunjukan boneka, hologram, workshop, hands-on, dan mini movie di antara bentuk pembelajaran yang disarankan. Selain itu, perlu disediakan pula prasarana pendukung lain seperti blind rope, braile, ramp, dan penerjemah bahasa isyarat untuk membentuk pengalaman belajar yang lebih mengesankan.
As a non-formal educational institutions and sources of knowledge, museums should be accessible to public, including children with special needs. Learning for children with special needs in museums can be adapted to a special educational curriculum including competencies that must be achieved at every level of education. Museum Sonobudoyo, as a renown public museum with excellent collections, surely needs to provide learning and exhibition programs which facilitate the needs of children with special needs. However, how should the learning model and exhibition for children with special needs be provided in this museum? This research aims to answer this question by examining the competencies of children with special needs as defined in the national curriculum in Indonesia as well as the Museum Sonobudoyo collections and exhibitions that potentially can meet these needs. This research is mainly focused on children with special physical needs. The results of this study show that the constructivist learning model carried out with an integrated system is the most appropriate at the Museum Sonobudoyo. In this model children with special needs will learn in the museum together with other visitors. In terms of the exhibition, this museum can take advantage of the existing storyline with some additions and changes of the existing media and display equipment to suit the needs of children with special physical needs (deaf, blind, and disabled). Puppet shows, holograms, workshops, hands-on, and mini movies are among the suggested forms of learning. In addition, it is necessary to provide other supporting infrastructure such as blind ropes, braille, ramps, and a sign language translator to form a more memorable learning experience.
Kata Kunci : Museum, Anak Berkebutuhan Khusus, Kontruktivis, Kurikulum, Museum Sonobudoyo, Museum, Children with Special Needs, Constructivists, Curriculum, Sonobudoyo Museum